Sabtu, 29 Desember 2012

Jodoh

- URUSAN JODOH DI TANGAN ALLAH

Urusan Jodoh itu ditangan Allah SWT, nah lalu bagaimana cara mengenali jodoh dalam islam. Tips ini berguna bagi anda yang sedang mencari jodoh dari ustad cinta, Restu Sugiharto. Menurut ustad ini ..

Tanda jodoh dalam Islam itu adalah “3M”. Apa itu?

Siapa yang paling bisa Memaklumi, Memaafkan dan Memotivasi kita ke arah yang lebih baik Insya Allah itu jodoh kita

Jadi kalau mau mencari jodoh, carilah yang bisa melakukan 3M diatas supaya hubungan cinta dapat langgeng dan tidak tercerai berai alias cerai. Jadi jodoh itu jangan berdasarkan nafsu (ganteng, kaya, dsb) tapi haruslah berdasarkan Islam (kuat aqidahnya, rajin ibadah dan indah akhlaknya).

Menurut Ustad yang juga dikenal sebagai pakar perjodohan dan pemilik pengajian Mujahadah Cinta Keluarga,  jika cinta itu menurut Islam maka cinta itu datangnya dari Allah.

Stttttttt! Jangan percaya ama  ramalan jodoh atau cinta monyet. Karena itu bukan jodoh yang sesungguhnya.

Cukup ingat 3M diatas supaya kamu benar-benar mendapatkan Jodoh menurut Islam yang dapat membahagiakan dalam hidupmu kelak. Mencari jodoh berdasarkan Islam. Insya Allah akan membahagiakan hidupmu baik dunia maupun akhirat.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:

1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan “nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut, siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis rahmah ini lebih
memperhatikan orang yang dicintainya disbanding terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya. Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni
orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.
Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan.
Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad syaghafaha hubba) bias seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ni ketika mengkisahkan
bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu. Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa iltihab naruha fi qalb al muhibbi.

8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

CINTA
Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang karena pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus.
Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad.

CINTA
Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dekaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.

CINTA
Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia kerana cinta itu membangkitkan semangat- hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.

CINTA
Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang

ATAS NAMA CINTA
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

CINTA YANG BERLALU
Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari daripadanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.

CINTA LELAKI
Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan, yang pertama adalah imaginasinya dan yang kedua adalah yang belum dilahirkan.

TAKDIR CINTA
Aku mencintaimu kekasihku, sebelum kita berdekatan, sejak pertama kulihat engkau.
Aku tahu ini adalah takdir. Kita akan selalu bersama dan tidak akan ada yang memisahkan kita.

CINTA PERTAMA
Setiap orang muda pasti teringat cinta pertamanya dan mencoba menangkap kembali hari-hari asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan direlung hatinya dan membuatnya begitu bahagia di sebalik, kepahitan yang penuh misteri.

LAFAZ CINTA
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

LAFAZ CINTA
Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, kerana kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan.

KALIMAH CINTA
Apa yang telah kucintai laksana seorang anak yang tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya

CINTA DAN AIRMATA
Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah sentiasa.

WANITA
Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan.

BANGSA
Manusia terbahagi dalam bangsa, negara dan segala perbatasan. Tanah airku adalah alam semesta. Aku warganegara dunia kemanusiaan.

KESENANGAN
Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka bekasnya. Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama.
Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan;

WARISAN
Manusia yang memperoleh kekayaannya oleh kerana warisan, membangun istananya dengan yang orang-orang miskin yang lemah.

RESAH HATI
Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia akan melihat sekitarnya dan akan melihat sahabat-sahabatnya datang dan menghiburkannya. Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, dimanakah dia akan menemukannya, bagaimanakah dia akan bisa
memperolehinya kembali?

JIWA
Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan kerana alasan duniawi dan dipisahkan di hujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan.

Syariat Islam Mengenai Cinta ; Menikah Tanpa Cinta
mediamuslim.info -Cinta seorang laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi yang bersumber dari fitrah yang diciptakan Alloh Subhanallohu wa Ta\’ala di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. Sebagaimana Firman Alloh Subhanallohu wa Ta\’ala, yang artinya: \”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendir, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantara kamu rasa kasih sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir\” (QS. Ar Rum: 21)Cinta pada dasarnya adalah bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran dan kesucian tergantung dari bingkainya. Ada bingkai yang suci dan halal dan ada bingkai yang kotor dan haram. Cinta mengandung segala makna kasih sayang, keharmonisan, penghargaan dan kerinduan, disamping mengandung persiapan untuk menempuh kehiduapan dikala suka dan duka, lapang dan sempit.
Cinta Adalah Fitrah Yang Suci Cinta bukanlah hanya sebuah ketertarikan secara fisik saja. Ketertarikan secara fisik hanyalah permulaan cinta bukan puncaknya.Dan sudah fitrah manusia untuk menyukai keindahan.Tapi disamping keindahan bentuk dan rupa harus disertai keindahan kepribadian dengan akhlak yang baik. Islam adalah agama fitrah karena itulah islam tidaklah membelenggu perasaan manusia.Islam tidaklah mengingkari perasaan cinta yang tumbuh pada diri seorang manusia.Akan tetapi islam mengajarkan pada manusia untuk menjaga perasaan cinta itu dijaga, dirawat dan dilindungi dari segala kehinaan dan apa saja yang mengotorinya. Islam mebersihkan dan mengarahkan perasaan cinta dan mengajarkan bahwa sebelum dilaksanakan akad nikah harus bersih dari persentuhan yang haram. Menikah Tanpa Cinta Adakalanya sebuah pernikahan terjadi tanpa dilandasi oleh cinta. Mereka berpendapat bahwa cinta itu bisa muncul setelah pernikahan. Islam memandang bahwa faktor ketertarikan merupakan faktor yang tidak bisa diabaikan begitu saja.Islam melarang seorang wali menikahkan seorang gadis tanpa persetujuannya dan menghalanginya untuk memilih lelaki yang disukainya seperti yang termuat dalam Al Qur\’an dan Al Hadist Firman Alloh Subhanallohu wa Ta\’ala, yang artinya: \”Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin dengan bakal suaminya\” (QS. Al Baqarah: 232) \”Dari Ibnu Abbas rodhiyallahu anhu, bahwa seorang wanita datang kepada Rasulullah shalallahu \’alahi wa sallam, lalu ia memberitahukan bahwa ayahnya telah menikahkannya padahal ia tidak suka, lalu Rasulullah shalallahu \’alahi wa sallam memberikan hak kepadanya untuk memilih\” (HR Abu Daud) Karena yang menjalani sebuah pernikahan adalah kedua pasangan itu bukanlah wali mereka. Selain itu seorang yang hendak menikah hendaknyalah melihat dahulu calon pasangannya seperti termuat dalam hadist: \”Apabila salah seorang dari kamu meminang seorang wanita maka tidaklah dosa atasnya untuk melihatnya, jika melihatnya itu untuk meminang, meskipun wanita itu tidak melihatnya\” (HR. Imam Ahmad) Memang benar dalam beberapa kasus, pasangan yang menikah tanpa didasari cinta bisa mempertahankan pernikahannya. Tapi apakah hal ini selalu terjadi, bagaimana bila yang terjadi adalah sebuah neraka pernikahan, kedua pasangan saling membenci dan saling mencaci maki satu sama lain. Sebuah pernikahan dalam islam diharapkan dapat memayungi pasangan itu untuk menikmati kehidupan yang penuh cinta dan kasih sayang dengan mengikat diri dalam sebuah perjanjian suci yang diberikan Alloh Subhanallohu wa Ta\’ala. Karena itulah rasa cinta dan kasih sayang ini sudah sepantasnya merupakan hal yang harus diperhatikan sebelum kedua pasangan mengikat diri dalam pernikahan. Karena inilah salah satu kunci kebahagian yang hakiki dalam mensikapi problematika rumah tangga nantinya

1. Doa perempuan lebih makbul daripada lelaki kerana sifat penyayangnya yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah s.a.w. akan hal tersebut, jawab Baginda s.a.w., "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia".
2. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah s.w.t. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebajikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan
3. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah s.w.t. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah s.w.t.
4. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
5. Apabila telah lahir anak lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
6. Apabila semalaman ibu tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah s.w.t. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah s.w.t.
7. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah s.w.t. dan orang yang takutkan Allah s.w.t., akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
8. Barangsiapa membawa hadiah, (barang makanan dari pasar ke rumah lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah). Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail.
9. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah s.w.t. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
10. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dikehendaki.
11. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 lelaki yang soleh.
12. Aisyah berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w, siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab Rasulullah s.a.w., "Suaminya". "Siapa pula berhak terhadap lelaki?" Jawab Rasulullah s.a.w, "Ibunya".
13. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan semua beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya serta menjaga sembahyang dan puasanya.
15. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga.
Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
16. Syurga itu di bawah tapak kaki ibu.
17. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Nabi s.a.w) di dalam syurga.
18. Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya syurga.
19. Daripada Aisyah r.a. "Barangsiapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuan lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka."
WANITA SOLEHAH…. SENANTIASA TENANG JIWANYA LANTARAN ITU SENTIASA MEMBESARKAN TUHAN DI DALAM SOLAT DAN SUNNAH RASULULLAH JADI JALAN KEHIDUPANNYA MENJADI AKHBAR DAN HIBURAN JANJI-JANJI ALLAH JAMINAN KETENANGAN BUATNYA SUMBER JIWANYA BEROLEH KEKUATAN AGAR SABAR MENENTANG MUSIBAH BERTEGUH MENJUNJUNG HUKUM HAKAM ALLAH INILAH WANITA SOLEHAH TIDAK MEMBIARKAN DIRI MENJADI BUSAR PANAHAN SYAITAN DIPERALATKAN UNTUK MENGUMPAN KAUM ADAM MEMANDANGNYA.... MENYEJUKKAN MATA..... DIRINYA TENTERAM MEMBIARKAN HIBURAN KIRANYA IA SEORANG ISTERI KEPERIBADIAN MENGHIBUR SUAMI SENTIASA MENGUNTUM SENYUM DI HaDAPAN SUAMI SANGGUP HIDUP BERDUA MATI BERSAMA LANTARAN MENGHARAPKAN KEREDHAAN ALLAH SEMATA-MATA MEMADAI DENGAN APA YANG ADA TIDAK PERNAH MENUNTUT APA YANG TIADA MENJADI TULANG BELAKANG PERJUANGAN SUAMI HINGGA SUAMI MERASAKAN RUMAH ITU SYURGA MENJADI KEKUATAN JIWA UNTUK MENEGAKKAN JIHADNYA NATIJAHNYA, LAHIRLAH JIWA SAKINAH BERNAFSUKAN MUTMAI’NAH.
‘SEINDAH HIASAN ADALAH WANITA SOLEHAH’
http://agusrusdiyanto-feb10.web.unair.ac.id/artikel_detail-46193-Renungan%20Hidup-Jodoh.html

Senin, 10 Desember 2012

Pacaran dalam pandangan islam

Pacaran Dalam Pandangan Islam

a. Islam Mengakui Rasa Cinta

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.

`Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .`(QS. Ali Imran :14).

Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mewujudkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semua itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.

Rasulullah SAW bersabda,`Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku`.

b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal

Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.

Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.

Bahkan lebih `keren`nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan `pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.

Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `laki-laki sejati`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wanita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi “the real man”.

Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.

Sedangkan pemandangan yang kita lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.

Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.

c. Pacaran Bukan Cinta

Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berbentuk sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemu langsung.

Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada kepastian tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu adalah memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan

Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, atau perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya atas data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,`Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa` fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha` Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)

Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebagai ta`aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemu dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum dan acak-acakan. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya bisa dikatakan sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran bila kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.


www.eramuslim.com

Kamis, 06 Desember 2012

Hari Jumat



Hari Jumat adalah hari yang memiliki arti yang sangat istimewa bagi ummat Islam karena merupakan hari raya bagi mereka. Sangat banyak hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan dan kekhususan hari Jumat dibandingkan dengan hari-hari yang lain. Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah rahimahulloh dalam kitabnya Zaadul Ma’ad memuat hadits-hadits tersebut hingga beliau berkesimpulan paling tidak ada 33 kekhususan hari Jumat dari hari-hari yang lain. Al Hafizh Suyuthi menulis kitab yang beliau beri judul Al Lum’ah fi Khashoish Al Jumu’ah. Beliau di kitab ini menyebutkan hadits-hadits yang sangat banyak -termasuk diantaranya hadits-hadits lemah- yang menerangkan keutamaan dan kekhususan Jumat; dimana beliau berkesimpulan ada 101 kekhususan Jumat dari hari selainnya.
Di silsilah pertama dari kumpulan hadits-hadits tentang Jumat kali ini kami memilihkan untuk antum sekalian hadits-hadits yang insya Allah dijamin keabsahannya yang kami cukupkan dengan sepuluh point kekhususan hari Jumat dari sekian banyak kekhususannya, Wallohu Waliyyut Taufiq.

1. Hari Ied yang Berulang Setiap Pekan

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « إِنَّ هَذَا يَوْمُ عِيدٍ جَعَلَهُ اللَّهُ لِلْمُسْلِمِينَ فَمَنْ جَاءَ إِلَى الْجُمُعَةِ فَلْيَغْتَسِلْ وَإِنْ كَانَ طِيبٌ فَلْيَمَسَّ مِنْهُ وَعَلَيْكُمْ بِالسِّوَاكِ »

Dari Ibnu Abbas radhiyallohu anhuma berkata Rasulullah shallallohu alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya hari ini (Jumat) Allah menjadikannya sebagai hari Ied bagi kaum muslimin, maka barangsiapa yang menghadiri shalat Jumat hendaknya mandi, jika ia memiliki wangi-wangian maka hendaknya dia memakainya dan bersiwaklah” (HR. Ibnu Majah dan haditsnya dinyatakan hasan oleh Al Albani)
Diantara fiqh hadits :
• Setiap ummat memiliki hari Ied (hari raya)
• Hari Ied bagi kaum muslimin dalam setiap pekannya adalah hari Jumat
• Disyariatkannya mandi bagi setiap yang mau menghadiri shalat Jumat
• Pada saat menghadiri shalat Jumat dianjurkan memakai wewangian bagi yang memilikinya dan juga diperintahkan bersiwak
• Disyariatkan mengagungkan hari raya
2. Diharamkan mengkhususkan berpuasa pada hari Jumat dan dimakruhkan mengkhususkan malamnya untuk shalat malam

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : « لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ » (متفق عليه)

Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu berkata, aku mendengar Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Jangan kalian mengkhususkan berpuasa pada hari Jumat kecuali jika engkau juga berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya” (HR. Bukhari dan Muslim)


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : « لَا تَخْتَصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ

Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu dari Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam, beliau bersabda : “Jangan kalian mengkhususkan malam Jumat dari malam-malam lainnya untuk shalat lail dan jangan kalian mengkhususkan hari Jumat dari hari-hari lainnya untuk berpuasa kecuali jika bertepatan dengan waktu yang seseorang yang biasa berpuasa padanya” (HR. Bukhari dan Muslim,lafal hadits ini baginya)
Diantara fiqh hadits :
• Larangan mengkhususkan hari Jumat untuk berpuasa sunnah
• Boleh berpuasa sunnah di hari Jumat jika berpuasa sebelumnya atau sehari sesudahnya atau jika bertepatan dengan puasa yang memiliki sebab tertentu seperti puasa Arafah dan lainnya
• Larangan mengkhususkan malam Jumat untuk shalat lail
3. Disunnahkan membaca surat As Sajadah di rakaat pertama dan Al Insan di rakaat kedua pada saat sholat shubuh

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقْرَأُ فِي الصُّبْحِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ بِـ"ألم تَنْزِيلُ" فِي الرَّكْعَةِ الْأُولَى وَفِي الثَّانِيَةِ "هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنْ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا"

Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam membaca pada shalat shubuh di hari Jumat Alif Laam Miim Tanzil (surat As Sajdah) di rakaat pertama dan Hal Ataa ‘alal Insan Hiinun Min Ad Dahr Lam Yakun Syaian Madzkuura (surat Al Insan) (HR. Bukhari dan Muslim)
Diantara fiqh hadits :
• Perhatian para sahabat terhadap surat/ayat yang dibaca oleh Rasulullah shallallohu alaihi wasallam pada saat shalat
• Penjelasan kadar bacaan imam pada saat shalat shubuh
• Disyariatkannya membaca surat As Sajadah di rakaat pertama dan surat Al Insan di rakaat kedua pada saat shalat Shubuh di hari Jumat
4. Pada hari Jumat ada waktu mustajab untuk berdoa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ : « فِيهِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ تَعَالَى شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ » وَأَشَارَ بِيَدِهِ يُقَلِّلُهَا

Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda tentang hari Jumat, “Pada hari Jumat ada waktu yang mana seorang hamba muslim yang tepat beribadah dan berdoa pada waktu tersebut meminta sesuatu melainkan niscaya Allah akan memberikan permintaannya”. Beliau mengisyaratkan dengan tangannya untuk menunjukkan bahwa waktu tersebut sangat sedikit. (HR. Bukhari dan Muslim)

Diantara fiqh hadits ini :

• Keutamaan berdoa pada hari Jumat
• Orang yang rajin beribadah adalah orang yang paling patut diterima doanya
• Anjuran untuk mencari waktu-waktu yang afdhal untuk berdoa
• Para ulama berselisih pendapat dalam menentukan waktu ijabah pada hari Jumat; Al Hafizh Ibnu Hajar telah menyebutkan 42 pendapat para ulama beserta dalilnya dalam menentukan waktu tersebut. Diantara sekian banyak pendapat ada dua pendapat yang paling kuat karena ditopang oleh hadits shohih, yaitu :

Pendapat Pertama : Waktu antara duduknya imam di mimbar hingga selesainya shalat. Pendapat ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim dari sahabat Abu Musa Al Asy’ari radhiyallohu anhu dimana beliau berkata saya telah mendengar Rasulullah shalallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang waktu ijabah, “Waktunya antara duduknya imam di atas mimbar hingga selesainya pelaksanaan shalat Jumat”. Pendapat ini dipilih oleh Imam Muslim, Baihaqi, Ibnul Arabi Al Maliki, Al Qurthubi, Imam Nawawi dll.

Pendapat kedua menetapkan waktu ijabah tersebut adalah ba’da ashar terutama menjelang maghrib. Pendapat ini berdasarkan beberapa keterangan yang disebutkan dalam hadits diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Nasaai dan lainnya dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallohu anhuma dari Rasulullah shallallohu alaihi wasallam beliau bersabda(artinya), “Hari Jumat 12 jam, padanya suatu waktu yang kapan seorang hamba muslim berdoa padanya niscaya Allah akan memberikannya, carilah waktu tersebut di penghujung hari Jumat setelah shalat Ashar”. Hadits ini dishahihkan oleh Imam Hakim, Adz Dzahabi, Al Mundziri dan Al Albani serta dihasankan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. Pendapat ini yang dipilih oleh banyak ulama diantaranya sahabat yang mulia Abdullah bin Salam radhiyallohu anhu, Ishaq bin Rahuyah,Imam Ahmad dan Ibn Abdil Barr. Imam Ahmad menjelaskan, “Kebanyakan hadits yang menjelaskan waktu tersebut menyebutkan ba’da ashar...”
5. Dianjurkan memperbanyak shalawat kepada Nabi di hari Jumat

عَنْ أَوْسِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : » إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرِمْتَ يَقُولُونَ بَلِيتَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ (رواه أبو داود والنسائي وابن ماجه وأحمد)

Dari Aus bin Aus radhiyallohu anhu berkata Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya hari yang afdhal bagi kalian adalah hari Jumat; padanya Adam diciptakan dan diwafatkan, pada hari Jumat juga sangkakala (pertanda kiamat) ditiup dan padanya juga mereka dibangkitkan, karena itu perbanyaklah bershalawat kepadaku karena shalawat kalian akan diperhadapkan kepadaku” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat yang kami ucapkan untukmu bisa diperhadapkan padamu sedangkan jasadmu telah hancur ?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi tanah untuk memakan jasad para nabi” (HR. Abu Daud, Nasaai, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad yang shohih)
Diantara fiqh hadits :
• Keutamaan hari Jumat dibandingkan hari-hari yang lain
• Diantara kekhususan hari Jumat : Adam alaihissalam diciptakan dan diwafatkan padanya, hari kiamat dan hari kebangkitan juga terjadi padanya
• Perintah memperbanyak shalawat pada hari Jumat
• Shalawat yang kita peruntukkan kepada Nabi Muhammad shallallohu alaihi wa sallam akan disampaikan kepada beliau
• Jasad para nabi tidak hancur dimakan tanah
6. Hari Kiamat terjadi pada hari Jumat

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : » خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُومُ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ « رواه مسلم

Dari Abu Hurairah radhiyallohu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat; padanya Adam diciptakan, dimasukkan ke surga dan juga dikeluarkan darinya serta kiamat tidak terjadi melainkan pada hari Jumat” (HR. Muslim)
Diantara fiqh hadits :
• Hari Jumat adalah hari yang terbaik diantara hari-hari yang ada
• Nabi Adam alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke surga dan dikeluarkan darinya pada hari Jumat
• Kiamat terjadi pada hari Jumat
7. Seorang yang meninggal dunia di hari Jumat akan dilindungi dari siksa kubur

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ » (رواه الترمذي وأحمد)

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallohu anhuma berkata, Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia di hari Jumat atau pada malamnya melainkan Allah melindunginya dari fitnah kubur” (HR. Tirmidzi dan Ahmad serta dinilai hasan atau shohih oleh Al Albani berdasarkan banyaknya jalur periwayatannya yang saling mendukung dan menguatkan)
Diantara fiqh hadits :
• Keutamaan muslim yang meninggal pada hari Jumat atau malam Jumat
• Adanya fitnah kubur
• Sebagian hamba Allah yang muslim diselamatkan dari fitnah kubur
8. Anjuran membaca surat Al Kahfi di malam Jumat dan pada hari Jumat

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ : مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنْ النُّورِ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْبَيْتِ الْعَتِيقِ
Dari Abu Said Al Khudri radhiyallohu anhu berkata, “Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi di malam Jumat niscaya Allah akan meneranginya dengan cahaya antara dia dengan Ka’bah” (Riwayat Darimi)

Keterangan : Sanad riwayat ini shohih mauquf dari perkataan Abu Said Al Khudri radhiyallohu anhu akan tetapi hukumnya marfu’ (sampai kepada Rasulullah shallallohu alaihi wasallam) karena pengabaran hal yang ghoib seperti ini tidak mungkin hanya berdasarkan pendapat pribadi para sahabat. Wallohu A’lam. Beberapa riwayat hadits menyebutkan kata hari Jumat.
Diantara fiqh hadits :
• Keutamaan membaca surat Al Kahfi pada malam Jumat dan hari Jumat
• Membaca surat Kahfi pada waktu di atas diantara amalan yang diganjar oleh Allah Azza wa Jalla berupa cahaya

9. Dibolehkan shalat di pertengahan siang di hari Jumat sebelum zawal

عن سَلْمَان الْفَارِسِيّ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : » مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَتَطَهَّرَ بِمَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ثُمَّ ادَّهَنَ أَوْ مَسَّ مِنْ طِيبٍ ثُمَّ رَاحَ فَلَمْ يُفَرِّقْ بَيْنَ اثْنَيْنِ فَصَلَّى مَا كُتِبَ لَهُ ثُمَّ إِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ أَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الْأُخْرَى « رواه البخاري

Dari Salman Al Farisi radhiyallohu anhu berkata Rasulullah shallallohu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat dan bersuci semampunya kemudian memakai wewangian lalu menuju ke mesjid dimana dia tidak memisahkan antara dua orang (yang duduk di mesjid) lalu dia shalat sesuai dengan yang ditetapkan Allah (sekemampuannya) kemudian jika imam keluar dari tempatnya untuk berkhutbah dia diam mendengarkan khutbah niscaya akan diampuni dosanya yang terjadi diantara kedua Jumat” (HR. Bukhari)
Diantara fiqh hadits :
• Penjelasan beberapa adab yang harus diperhatikan pada saat menunaikan shalat Jumat
• Pahala Jumat berupa pengampunan dosa hanya akan diraih oleh hamba yang menjalankan adab-adab tersebut
• Bolehnya seseorang yang masuk di mesjid pada hari Jumat melaksanakan shalat sebanyak-banyaknya walaupun dipertengahan siang(zawal) hingga imam naik di atas mimbar. Diantara ulama yang menjelaskan masalah ini Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim dan Allamah Syamsul Haq Azhim Abadi rahimahumulloh.

10. Seseorang yang mandi di hari Jumat maka itu merupakan pembersih baginya hingga Jumat berikutnya

وَعَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم يَقُولُ : « مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كَانَ فِي طَهَارَةٍ إِلَى الْجُمُعَةِ الأُخْرَى ». (رواه الطبراني وغيره)

Dari Abu Qatadah radhiyallohu anhu berkata, aku mendengar Rasulullah shalllallohu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jumat maka dia berada dalam keadaan suci hingga Jumat berikutnya” (HR. Thabrani, Abu Ya’la, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Hakim. )

Keterangan : Hadits ini dinilai shahih oleh Suyuthi dan dinyatakan hasan oleh Mundziri dan disetujui oleh Albani
Diantara fiqh hadits ini :
• Anjuran mandi pada hari Jumat
• Keutamaan mandi pada hari Jumat dibandingkan hari-hari yang lain

Rabu, 05 Desember 2012

belajar sabar

BAGAIMANA SABAR MENGHADAPI MASALAH DAN COBAAN ?
I. Sabar yang pertama , kalau kita suatu saat diuji dengan masalah , kita harus sadar bahwa kesabaran yang pertama yang harus di miliki adalah Khusnudhon (berbaik sangka) kepada Allah, karena seburuk buruk perilaku adalah berburuk sangka kepada Allah.


Berbaik sangka kepadaNya karena tubuh kita adalah milik Allah , bukan milik kita. Kalau Allah mau menimpakan masalah pada kita , sehebat apapun diri kita tetap terkena. Allah berkuasa mutlak pada diri kita dan Allah dengan mudahnya berbuat (berkehendak) apa saja. " Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya".


Yang menciptakan semua syaraf kita adalah Allah, dan Allah Tahu rasa sakit (penderitaan) mengalami semua masalah itu, justru Dia yang menciptakan rasa sakit mengalami masalah beserta semua penderitaan yang mungkin dialami manusia.


apa yang telah menimpa kita masih belum apa apa karena Allah bisa saja menambahi penderitaan kita , masih banyak jenis penderitaan yang ada dalam perbendaharaan kekuasaanNya kalau kita nggak mau bersabar , apa kita nggak takut kalau Dia murka lalu menambahi atau tidak berkenan menghilangkan penderitaan itu, kita bisa apa ?.


II. Sabar yang kedua adalah sabar untuk tidak mengeluh, Sebenarnya menceritakan penderitaan kita kepada orang lain adalah mencerminkan upaya kita daam menyelesaikan masalah .


Tetapi kita perlu menceritakan sesuatu seperti kenyataanya, tanpa menambah nambahi, agar kita terhindar dari sikap mengeluh. Jangan keluh kesah apalagi sampai mendramatisir lebih lebih memprotes perbuatan Allah yang Maha Adil. Segala penderitaan tidak akan berakhir kalau hanya di ratapi. Sesuatu masalah tidak akan membuat seseorang jadi hina kalau disikapi dengan akhlak mulia.


III. Sabar yang ketiga adalah sabar menafakuri hikmah tiap masalah dan cobaan. Tidak ada satupun perbuatan Allah yang sia sia, semua berjalan persis seperti kehendakNya. Setiap masalah itu ada hikmahnya, maka evaluasi dan renungkanlah, mungkin kita terlalu sibuk, melupakan keluarga, orang lain, melupakan Allah sehingga kita di ingatkan dengan di beri suatu masalah atau cobaan.


Seharusnya kita evaluasi diri, introspeksi apa yang telah kita lakukan, Apa ketika kita jaya, kita masih ingat pada mereka yang dhu'afa ? Apakah selama ini kita mengingat Tuhan ? apa kita lalai berderma ? kalau sejak kecil kita menderita, apakah usaha kita sudah maksimal ?. Kalau sudah ketemu jawabannya, lalu kita akan berjuang dengan Ikhtiar untuk sukses atau sembuh dari sakit.


IV. Sabar yang keempat adalah bersabar ketika ikhtiar. Ingatlah bahwa yang membuat kita sukses dan menyembuhkan dari sakit, atau mendapatkan apa yang kita inginkan dan terhindar dari masalah itu hanya Allah semata. Karena Dia yang Maha Tahu masalah atau penyakit kita . "Tiada musibah atau apapun jua yang menimpa kecuali atas kehendaknya " .


Ketika kita sudah berusaha cari solusi atau berobat kesana sini tapi tidak juga selesai masalah kita atau sembuh dari sakit, tidak akan rugi sebab akan menjadi amal. Barang siapa ridho kepada ketentuan Allah, maka Allah akan meridhoi, hidup terus, maju, ikhtiar terus, terus dan terus, jangan takut dan menyerah, Tuhan akan meridhoi.


Usaha dan jerih payah, serta pengorbanan kita adalah amal dan pahala yang tidak akan pernah di lupakan Allah , sampai kapanpun , maka jangan mengeluh dalam berikhtiar. Dokter, guru, teman, keluarga, spiritualis , hanyalah membantu saja sebagai sarana mencapai sesuatu, Asal mula segala sesuatu tetap dari Yang Maha Kuasa.


V. Sabar yang kelima, sabar untuk berniat sukses, bebas dan jaya serta sembuh dari sakit dan punya niat untuk beribadah . Milikilah tekad yang kuat untuk mengisi kesuksesan , kejayaan, kebebasan, kesehatan, keperkasaan yang Allah karuniakan dengan meningkatkan ibadah. Jangan sampai kita tidak punya rencana tentang bagaimana menggunakan semua yang telah / akan Allah berikan.


Tidak sedikit orang terangkat derajatnya karena dulunya mendapat masalah, tertimpa, kemalangan yang teramat sangat, sakit atau cacat, bahkan ada orang yang cemerlang justru karena telah banyak sekali kegagalan yang di alaminya, karena seburuk buruk masalah, penyakit, penderitaan yang diberikan kepada kita, sebenarnya telah di ukur oleh Allah bahwa kita mampu menerimanya. Tuhan tidak akan memberikan sesuatu diluar kemampuan kita.


Oleh karena itu, waspadalah jangan sampai kesuksesan, kejayaan, kebebasan, kesehatan, keperkasaan, yang kita terima mengecoh kita untuk takabur, sombong, menghina orang lain, maksiat, itu jauh lebih berbahaya di banding tetap menderita atau kena masalah atau sakit tapi membuat kita dekat dengan Allah.


Tidak ada musibah yang lebih buruk daripada jauh dari Allah, karena tidak bisa bersyukur atau tidak punya kesabaran. Bahkan Allah sendiri menyatakan dalam Hadis Qudsi yang artinya : " Barang siapa yang tidak bersabar atas cobaanKu, tidak mensyukuri nikmatKu, dan tidak rela atas ketentuanKu, maka carilah Tuhan selain Aku ".
 
http://denimultimedia1.blogspot.com/2011/03/bagaimana-sabar-menghadapi-masalah-dan.html

Nikmatnya Menuntut Ilmu



Diantara sekian banyak nikmat Allah yang telah kita rasakan, ada satu nikmat yang melandasi datangnya nikmat-nikmat yang lain, yaitu ilmu. Sebab dengan ilmu, seseorang akan dapat memahami berbagai hal dan karena ilmu juga, seseorang akan mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah, juga di kalangan manusia. Terutama jika disertai dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Baik dia seorang budak atau orang merdeka; seorang bawahan atau atasan; seorang rakyat jelata ataupun para raja. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya,
يَـأَيُّهَاالَّذِيْنَ ءَامَنُوا إِذَاقِيْـلَ لَكُمْ تَفَـسَّحُوْافِيْ الْمَجَلِسِ فَافْـسَحُوا يَفْـسَحِ اللهُ لَكُمْۖ وَإِذَا قِيْـلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَتٍۗ وَاللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبْيْرٌ ۝
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.” (Qs. Al-Mujadilah: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda,
إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَـذَا الْكِـتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِيْنَ .
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengangkat dengan Al-Qur’an beberapa kaum dan Allah pun merendahkan beberapa kaum dengannya.” [Hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 817) dari ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu’anhu]
Dalil di atas dengan menegaskan bahwa orang yang berilmu dan mengamalkannya maka kedudukannya akan diangkat oleh Allah di dunia dan akan dinaikkan derajatnya di akhirat.

hadits menuntut ilmu





Iman itu telanjang, pakaianya adalah takwa, perhiasannya adalah malu, dan buahnya adalah ilmu [Al Hakim dalam Tarikh Naisabur dari hadits Abu Darda' dengan sanad yang lemah]

tugas gamtek 1


Senin, 03 Desember 2012

Iman menurut Bahasa dan istilah


Pengertian Iman Menurut Bahasa dan Istilah

Berbicara tentang iman, tentu berbicara tentang keyakinan. Maka secara mutlak orientasi pembahasan dititik beratkan pada jiwa seseorang atau lazimnya di sebut “qalbu”. Hati merupakan pusat dari satu keyakinan, kita semua sepakat bahwa dalam diri manusia terdapat dua unsur pokok kejadian, terbentuknya jazad dan rohani, apabila keduanya pincang atau salah satu di antaranya kurang, maka secara mutlak tidak mungkin terbentuk makhluk yang bernama manusia.
 Iman menurut bahasa adalah membenarkan dengan hati atau percaya, sedangkan menurut syara’ iman itu bukanlah suatu angan-angan akan tetapi apa yang telah mantap dalam hati dan dibuktikan lewat amal perbuatan. Hal ini tercermin dalam salah satu hadis Nabi yang berikut ini:
 Terjemahnya:
 “Iman itu bukanlah dengan angan-angan tetapi apa yang telah mentap di dalam hatimu dan dibuktikan kebenarannya dengan amal”.
 Dalam Ensiklopedia Nasional Indonesia dikatakan bahwa:
 “Iman secara bahasa berasal dari kata anamah yang berarti menganugrahkan rasa aman dan ketentraman, dan yang kedua masuk ke dalam suasana aman dan tentram, pengertian pertama ditunjukkan kepada Tuhan, karena itu salah satu sifat Tuhan yakni, al-Makmun, yaitu Maha Memberi keamanan dan ketentraman kepada manusia melalui agama yang diturunkan lewat Nabi. pengertian kedua dikaitkan dengan manusia. Seorang mukmin (orang yang beriman) adalah mereka memasuki dalam suasana aman dan tentram menerima prinsip yang telah ditetapkan Tuhan”.
 Dari beberapa keterangan di atas, maka dapatlah ditarik kesimpulan sebagai bahan referensi bahwa pengertian bahwa iman adalah keyakinan yang kuat dan kepercayaan penuh terhadap suatu subjek, gagasan dan doktrin. Dengan kata lain, tidaklah sempurna iman seseorang kalau hanya menyakini dengan hati tanpa dibarengi dengan amal perbuatan.
 Sedangkan menurut Istilah, Ali Mustafa al-Ghuraby menyatakan:
 “Sesungguhnya Iman itu adalah ma’rifah dan pengakuan kepada Allah swt Dan Rasul-Rasul-Nya (atas mereka keselematan)".
 Dan menurut Jumhur Ulama yang dikemukakan oleh al-Kalabadzy:
 ”Iman itu adalah perkataan, perbuatan dan niat, dan arti niat adalah pembenaran".
 Dari definisi bahasa dan istilah diatas. maka dipahami bahwa para pakar sepakat bahwa iman adalah pembenaran dengan hati. Adapaun mengenai ucapan dan pengamalan anggota badan, maka sebagian ulama memasukkannya sebagian dari pada iman sedang lainnya menempatkan sebagai kelengkapan saja.

Minggu, 02 Desember 2012


Shalat dalam Islam: Jejak Ibadah Harian Yudaisme dan Kekristenan Awal





 Pendahuluan

Islam mengenal Rukun Iman yang terdiri dari Sahadat, Shalat, Shaum, Zakat, Jihad sebagaimana dikatakan, “Islam dibangun di atas lima: Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhamad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan “(Diriwayatkan Al Bukhari)[1].

Shalat, dalam Islam menempati kedudukan yang sangat penting yaitu sebagai tiangnya agama sebagaimana dikatakan dalam sebuah Hadits, “Pokok segala sesuatu ialah Islam, tiangnya ialah shalat dan puncaknya ialah jihad di jalan Allah” (Diriwayatkan Muslim)[2]. Hadits yang lain mengatakan, “Bahkan pembeda antara orang kafir dan Muslim adalah Shalat sebagaimana dikatakan, “Jarak antara seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan shalat” (Diriwayatkan Muslim)[3].

Shalat adalah sebuah kewajiban agamawi yang tidak bisa ditawar-tawar sebagaimana dikatakan, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (Qs 4:103).

 Perintah Melaksanakan Shalat Dalam Quran

Ada banyak ayat dalam Qur’an yang memerintahkan untuk melaksanakan Shalat. Menurut para ahli agama Islam, ada sekitar 30 perintah melaksanakan Shalat[4]. Berikut sebagian dari perintah Shalat al:

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu” (Qs al-Baqarah 2:238)

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku” (Qs al-Baqarah 2:43)

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (Qs Hud 11:114)

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (Qs al-Isra’ 17:78)

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (Qs al-Isra’ 17:79)

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs Thaha 20:14)

Keutamaan Shalat

Sebagai kewajiban dalam beribadah maka Shalat memiliki keutamaan dalam ajaran Islam. Beberapa keutamaan yang dimaksudkan adalah sbb:

Mencegah berbuat kejahatan

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs al-Ankabut 29:45)

Mendapatkan Pahala

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Qs al-Baqarah 2:277)

Menghapus Dosa

“Perumpamaan shalat-shalat lima waktu adalah seperti air tawar yang melimpah di pintu rumah salah seorang dari kalian dimana ia mandi di dalamnya lima kali dalam setiap hari, maka bagaimana menurut kalian apakah masih tersisa sedikit pun kotoran padanya? Para sahabat menjawab, ‘Tidak tersisa’. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkasn dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan kotoran” (Diriwayatkan Muslim)[5].

Tata Cara Shalat

Al Qur’an sendiri tidak memberikan pedoman mendetail perihal tata cara Shalat sebagaimana dikatakan seorang Muslim, “Tata cara ritual Shalat lima waktu yang kita kenal sekarang dan merupakan hal yang paling penting wajib dilakukan penganut agama Islam jika tidak ingin masuk neraka, ternyata tidak ditemukan dalam Quran”[6]

Tata cara Shalat dalam Islam didasarkan pada petunjuk perilaku ibadah Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang memberikan petunjuk dan teladan dalam melaksanakan Shalat. Dalam salah satu Hadits dikatakan, “Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya ialah takbir dan penghalalnya ialah salam” (Diriwayatkan Abu Daud dan At Tirmidzi).

Adapun tata cara Shalat berdasarkan catatan Hadits adalah sbb:

Takbiratul ihram, yaitu setelah berdiri menghadap kiblat, kemudian mengangkat kedua tangan sampai ibu jari berada pada ujung telinga bagian bawah, sambil mengucapkan Allahu Akbar. Ditambah membaca doa Iftitah dan Al Fatihah.
Ruku
I’tidal
Sujud
Duduk diantara dua sujud
Sujud
Duduk Tasyahud
Salam ke kana dan ke kiri[7]

 Asal Usul Perintah Shalat dan Penetapan Waktu Shalat

Tidak ada kejelasan darimana asal usul penetapan lima waktu Shalat. Setidaknya ada beberapa penjelasan yang tidak sinkron satu sama lainnya sbb: 

[Menurut kami baik al-Qur’an maupun al-Hadits menjelaskan perintah shalat dengan sangat jelas dan sinkron satu dengan yang lainnya, kemungkinan penulis artikel ini bukan seorang muslim sehingga tidak memahami pesan-pesan yang disampaikan Allah Azza wa Jalla di dalam al-Qur’an maupun sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan perintah mendirikan shalat dan tata cara pelaksanaannya -  AZ]

Meniru Perilaku Para Nabi Terdahulu

Nabi Adam adalah nabi pertama yang mengajarkan shalat subuh. Saat itu, beliau baru saja diturunkan dari surga ke dunia oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala karena sudah melanggar larangan Allah.  Saat itu, bumi masih gelap gulita. Nabi Adam merasa sangat ketakutan karena baru sekali itu menginjakkan kakinya di dunia dan kegelapan yang menyambutnya. Saat Subuh menjelang dan matahari mulai terbit, Nabi Adam pun melaksanakan shalat dua rakaat sebagai tanda syukur karena sudah terbebas dari kegelapan malam dan diberikan cahaya matahari sebagai gantinya.

Nabi Ibrahim adalah nabi yang pertama mengerjakan Shalat Dzuhur. Beliau melakukan shalat sebanyak empat rakaat setelah beliau mendapat wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menyembelih puteranya, Nabi Isma’il dengan seekor domba kurban. Shalat ini didirikan oleh Nabi Ibrahim pada saat matahari sudah tepat di atas ubun-ubun kepala.

Nabi Yunus adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat Asar. Saat itu, Nabi Yunus baru saja dimuntahkan oleh ikan paus yang sudah menelannya selama beberapa waktu lamanya. Berdiam lama di dalam perut ikan paus yang penuh dengan kegelapan membuat Nabi Yunus teringat dengan segala dosa-dosa yang sudah dilakukannya. Oleh karena tu, ketika ikan paus memuntahkan dan melemparkannya ke sebuah pantai yang tandus, beliau langsung mendirikan shalat empat rakaat. Shalat ini sebagai rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena telah terbebas dari dalam perut ikan paus dan kegelapan yang sudah menutupi mata dan hatinya selama ini. Nabi Yunus mendirikan shalat ini ketika waktu sudah memasuki waktu shalat Asar.

Nabi Isa adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat Maghrib. Beliau melaksanakan Shalat Maghrib keika Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkannya dari kejahilan dan kebodohan kaumnya sendiri. Shalat itu didirikan tiga rakaat pada saat matahari sudah terbenam. Nabi Isa melakukan shalat ini sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala karena sudah diselamatkan dari kejahilan tersebut.

Nabi Musa adalah nabi pertama yang mengerjakan shalat Isya. Saat itu Nabi Musa dan isterinya, Shafura, sedang dalam perjalanan menuju tanah kelahiran Nabi Musa di Mesir setelah sebelumnya tingal bersama Syuaib.  Mereka kesulitan mencari jalan keluar yang aman dari Madyan karena tentara Fir’aun sedang mencarinya di seluruh penjuru negeri.  Sementara itu, Nabi Musa takut tentara Fir’aun akan menemukannya dan menyerahkannya pada Fir’aun yang zalim. Kegundahan Nabi Musa akhirnya didengar Allah Subhanahu wa Ta'ala yang langsung menghilangkan rasa gundah itu dari hati Nabi Musa. Sebagai rasa syukur, Nabi Musa mendirikan shalat empat rakaat pada saat malam hari.

Pada peristiwa Isra dan Mi’raj. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  melakukan perjalanan menaiki Buraq dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian diterbangkan ke langit tertinggi yang disebut Sidratul Muntaha oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam peristiwa ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk menyempurnakan kelima shalat ini dalam lima waktu yang harus dilaksanakan satu hari satu malam. Peristiwa Isra Mi’raj ini menjadi tonggak bagi umat Islam karena pada saat itulah kewajiban shalat lima waktu  diwajibkan bagi seluruh umat Islam[8].

Perintah Yang Diterima Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Saat Mi’raj

Menurut Hadits Shahih Bukhari 8.1/336 dikisahkan sbb,

“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik berkata, Abu Dzar menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Saat aku di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang Malaikat Jibril Alaihis Salam. Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya dengan menggunakan air zamzam. Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi hikmah dan iman, lalu dituangnya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Lalu dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia. Tatkala aku sudah sampai di langit dunia, Jibril Alaihis Salam berkata kepada Malaikat penjaga langit, 'Bukalah'. Malaikat penjaga langit berkata, 'Siapa Ini? ' Jibril menjawab, 'Ini Jibril'. Malaikat penjaga langit bertanya lagi, 'Apakah kamu bersama orang lain? ' Jibril menjawab, Ya, bersamaku Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.' Penjaga itu bertanya lagi, 'Apakah dia diutus sebagai Rasul? ' Jibril menjawab, 'Benar.' Ketika dibuka dan kami sampai di langit dunia, ketika itu ada seseorang yang sedang duduk, di sebelah kanan orang itu ada sekelompok manusia begitu juga di sebelah kirinya. Apabila dia melihat kepada sekelompok orang yang di sebelah kanannya ia tertawa, dan bila melihat ke kirinya ia menangis. Lalu orang itu berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, Dialah Adam Alaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah ruh-ruh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah kanannya adalah para ahli surga sedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahli neraka. Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang ke sebelah kirinya dia menangis.' Kemudian aku dibawa menuju ke langit kedua, Jibril lalu berkata kepada penjaganya seperti terhadap penjaga langit pertama. Maka langit pun dibuka'.  Anas berkata, Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa pada tingkatan langit-langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, 'Isa dan Ibrahim semoga Allah memberi shalawat-Nya kepada mereka. Beliau tidak menceritakan kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahwa beliau bertemu Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.  Anas melanjutkan, Ketika Jibril berjalan bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Idris.' Lalu aku berjalan melewati Musa, ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Musa.' Kemudian aku berjalan melewati 'Isa, dan ia pun berkata, 'Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah 'Isa.' Kemudian aku melewati Ibrahim dan ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Ibrahim Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.' Ibnu Syihab berkata, Ibnu Hazm mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu 'Abbas dan Abu Habbah Al Anshari keduanya berkata, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Kemudian aku dimi'rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapat mendengar suara pena yang menulis. Ibnu Hazm berkata,  Anas bin Malik menyebutkan, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  bersabda: Kemudian Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, 'Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? ' Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! ' Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. Tapi ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.' Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup.' Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala, Allah lalu berfirman: 'Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku! ' Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, 'Kembailah kepada Rabb-Mu! ' Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabb-ku.' Jibril lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu. Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi.”[9]

Malaikat Jibril Mengajari Waktu Shalat

“Malaikat Jibril turun kemudian mengajari Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam waktu-waktu shalat.  Malaikat Jibril berkata kepada beliau, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Dhuhur ketika matahari telah bergeser dari tengah-tengah langit. Pada waktu Ashar, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Ashar ketika bayangan segala sesuatu persis seperti aslinya. Pada waktu Maghrib, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam. Ketika waktu Isya telah tiba, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Isya ketika sinar merah matahari telah hilang. Ketika fajar telah terbit. Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Shubuh ketika fajar telah menyingsing. Keesokan harinya Malaikat Jibril pun datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan memerintahkan hal yang sama kepada beliau. Setelah itu Malaikat Jibril berkata, ‘Waktu shalat ialah diantara kedua waktu tersebut” (Diriwayatkan Ahmad dan Nasai)[10]

Ibadah Shalat Sebelum Islam

Menurut Al Qur’an para nabi sebelum Islam diwahyukan pada Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sudah mengenal dan melaksanaka ibadah Shalat. Agak membingungkan juga, bagaimana mungkin jika Shalat Lima Waktu diwahyukan pada Muhamad saat Mikraj ke Sidratul Muntaha, padahal ibadah Shalat sudah dilaksanakan sejak zaman para nabi?

[sebenarnya tidak membingungkan, sewaktu Isra’ Mi’raj Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menerima perintah shalat lima waktu sekaligus, sedangkan para Nabi yang mengerjakan sebelumnya hanya melaksanakan shalat pada waktu-waktu tertentu, seperti Nabi Adam as hanya melaksanakan shalat Shubuh dst-AZ]

Kita tinggalkan sejenak persoalan di atas dan kita akan menyimak dalil-dalil Qur’an yang mengatakan bahwa ibadah Shalat sudah dilakukan sejak nabi-nabi terdahulu seperti Ibrahim, Musa, Isa  sbb:

“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shaleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (Qs al-Anbiya 21:72-73)

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs Thaha 20:13-14)

“Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup” (Qs Maryam 19:30-31)

Jejak Tefilah Yudaisme dan Liturgia Horarum Kristen

Ketika Khalifah Umar bin Khatab, memasuki Yerusalem pada tahun 636, dia disambut oleh Sophronius I (634-638), Patriarkh dan Uskup Agung Gereja Orthodox Yerusalem dan diantarkan ke tempat ibadah Kristen yang paling suci, Gereja Makam Suci (Holy Sepulchere Church). Ketika ia hendak memasuki tempat suci itu terdengar adzan Shalat Dzuhur. Uskup Sophronius adalah seorang tuan rumah yang penuh hormat, maka ia bertanya kepada Sang Khalifah: “Tidakkah tuan akan menjalankan Shalat? Akan saya ambilkan sehelai sajadah untuk Anda dan Anda akan dapat menjalankan Shalat di sini”. Sang Khalifah berpikir sejenak dan berkata: “Terima kasih, tetapi maaf. Jika saya menjalankan Shalat di tempat suci Anda, para ummat saya akan menirunya dan merebut tempat ini. Saya akan pergi ke tempat yang agak terpisah”. Maka ia pun pergi menjauh dan menjalankan Shalatnya di tempat yang sekarang merupakan sebuah masjid di dekat situ. Dari kisah nyata dalam sejarah ini tahulah kita bahwa Gereja Kristen Perdana sejak awal (sebelum kedatangan pasukan dan kaum Muslim) sudah melakukan Shalat[11].

Jika Anda seorang Kristen yang dibesarkan dalam tradisi gereja-gereja Reformasi dari Barat baik Protestan, Baptis atau aliran-aliran Pentakosta serta Kharismatik, mungkin terasa asing mendengar istilah Shalat dalam Kekristenan.

Namun itulah kenyataan historis bahwa jauh sebelum Islam menjadi agama yang memiliki pengaruh di dunia dan Indonesia khususnya dan memiliki ritual ibadah Shalat, Kekristenan Timur yaitu Gereja Orthodox telah mengenal ibadah harian yang disebut Ashabus Shalawat.

Dalam Gereja Orthodox ada dua bentuk Sembahyang Harian yang mengikuti aturan tertentu ini, yaitu yang mengikuti cara Nabi Daniel : Tiga Kali sehari (Dan. 6:11-12, Mzm. 55:18), atau juga mengikuti pola yang dikatakan oleh Nabi Daud: ”Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau…” (Mzm. 119:164). Sembahyang tiga kali itu terdiri dari: Pagi, Tengah-Hari, dan Sore Hari (Mazmur 55:18). Waktu-waktu Sembahyang itu sendiri sudah dimulai sejak zaman Nabi Musa. Tuhan memerintahkan agar Imam Harun mempersembahkan korban binatang dan korban dupa pada “Waktu Pagi” dan “Waktu Senja” (Kel. 29:38-39, 30:7-8).

Kata Shalat itu sendiri dalam bahasa Arab, serumpun dengan kata Tselota dalam bahasa Arami (Syria) yaitu bahasa yang digunakan oleh Yesus sewaktu hidup di dunia. Dan bagi ummat Kristen Orthodox Arab yaitu ummat Kristen Orthodox yang berada di Mesir, Palestina, Yordania, Libanon dan daerah Timur-Tengah lainnya menggunakan kataTselota tadi dalam bentuk bahasa Arab Shalat, sehingga doa “Bapa kami” oleh ummat Kristen Orthodox Arab disebut sebagai Shalattul Rabbaniyah.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, Gereja Orthodox, seperti Syria dan Mesir, mengenal liturgi doa harian yang disebut, Ashabush Sholawat, [12] yang terdiri dari :
Shalat Sa’atul Awwal (Shalat jam pertama, jam 06.00)
Shalat Sa’atuts Tsalits, (Shalat jam ketiga, jam 09.0)
Shalat Sa’atus Sadis, (Shalat jam keenam, jam 12.00)
Shalat Sa’atut Tis’ah, (Shalat jam kesembilan, jam 15.00)
Shalat Ghurub, (Shalat terbenamnya matahari, jam 18.00)
Shalat Naum (Shalat malam, jam 19.00)
Shalat Satar (Shalat tutup malam, jam 24.00)

 Sementara Gereja Katholik di Abad Pertengahan mengenal    yang disebut De Liturgia Horarum [13] yaitu :
Laudes (Doa pagi)
Hora Tertia (Doa jam ketiga)
Hora Sexta (Doa jam keenam)
Hora Nona (Doa jam kesembilan)
Verper (Doa senja)
Vigil (Doa malam)
Copletorium (Doa penutup)

 Istilah Liturgia Horarum dalam bahasa Inggris disebut “Liturgy of the Hours” (Liturgi Waktu). Nama ini mulai dipakai untuk pertama kali pada tahun 1959 dan menjadi populer selama Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Liturgi. Nama ini memperlihatkan bahwa ibadat ini dijalankan sesuai dengan jam atau waktu tertentu setiap hari yang pada dasarnya mempunyai arti simbolis sepeti terungkap dalam doa-doa yang dipakai dalam ibadat ini[14].

Disebut Liturgi karena ibadat ini sesungguhnya adalah doa atau kegiatan rohani seluruh umat sebagai Gereja dalam arti sebenarnya. Istilah harian (jam harian) menyatakan bahwa ibadat ini menguduskan waktu, jam siang dan malam. Sebenarnya dalam ibadat ini umat mengalami Tuhan yang tidak kenal waktu, yang abadi dan kudus. Oleh pengalaman berahmat itu manusia dikuduskan dalam waktu, hidup dan karyanya sehari-hari diberkati dan dikuduskan oleh Tuhan, saat atau sejarah hidupnya menjadi saat yang penuh rahmat dan menyelamatkan[15].

Dalam perspektif Roma Katholik yang mengacu pada istilah Latin, ada beberapa istilah yang dipergunakan selain Liturgia Horarum yaitu Ofisi Ilahi (Oficium: Kegiatan, Kewajiban), Brevir (Breviarum: Ringkasan, Singkatan), Opus Dei (Karya Tuhan), Pensum Servitutis (Takaran Pelayanan), Horae Canonicae (Jam-jam wajib), Horologion (Jam-jam doa)[16].

Lebih jauh makna dari Ashabus Shalawat sbb:

Shalat Jam Pertama (Sembahyang Singsing Fajar, Orthros, Matinus, Laudes) atau Shalatus Sa’atul Awwal (Shalatus Shakhar), yaitu ibadah pagi sebanding dengan “Shalat Subuh” dalam agama Islam (jam 5-6 pagi). Data ini diambil dari Kitab Keluaran 29:38-41 berkenaan dengan ibadah korban pagi dan petang, yang dalam Gereja dihayati sebagai peringatan lahirnya Sang Sabda Menjelma sebagai Sang Terang Dunia (Yoh.8:12).

Shalat Jam Ketiga (Sembahyang Jam Ketiga, Tercia) atau Shalatus Sa’atus Tsalitsu, Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dhuha” dalam agama Islam meskipun bukan Shalat wajib (jam 9-11 pagi). Ini terungkap dalam Kitab Kisah Para Rasul 2:1,15 yang mempunyai pengertian penyaliban Yesus dan juga turunnya Sang Roh Kudus (Mrk.15:25; Kis.2:1-12,15). Itu sebabnya dengan Shalat ini, kita teringatkan agar mempunyai tekad dan kerinduan untuk menyalibkan dan memerangi hawa nafsu sendiri, agar rahmat Allah dalam Roh Kudus melimpah dalam hidup.

Shalat Jam Keenam (“Sembahyang Jam Keenam”, “Sexta”) atau Shalatus Sa’atus Sadis. Ini nyata terlihat dalam Kisah Para Rasul 10:9 dan Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dzuhur” dalam agama Islam (jam 12-1 tengah hari), yang mempunyai makna sebagai peringatan akan penderitaan Kristus di atas salib (Luk.23:44-45), dan pencuri yang disalib bersama-sama Kristus bertobat. Berpijak dari makna ini, kitapun diharapkan seperti pencuri selalu ingat akan hidup pertobatan dan selalu memohon rahmat Ilahi agar mampu mencapai tujuan hidup yaitu masuk dalam kerajaan Tuhan.

Shalat Jam Kesembilan (“Sembahyang Jam Kesembilan”, “Nona”) atau Shalatus Sa’atus Tis’ah (Kis.3:1) sebanding dengan “Shalat Asyar” dalam agama Islam (jam 3-4 sore). Shalat ini dilakukan untuk mengingatkan saat Kristus menghembuskan nafas terakhirNya di atas salib (Mrk.15:34-37), sekaligus untuk mengingatkan bahwa kematian Kristus di atas salib adalah untuk menebus dosa-dosa, agar manusia dapat melihat dan merasakan rahmat Ilahi.

Shalat Senja (“Sembahyang Senja”, “Esperinos”, “Vesperus”) atau Shalatul Ghurub. Shalat ini sebanding dengan “Shalat Maghrib” dalam agama Islam (kira-kira jam 6 sore), sama seperti Shalat jam pertama, Shalat ini dilatar belakangi oleh ibadah korban pagi dan petang yang terdapat dalam Kitab Keluaran 29:38-41. Makna dan tujuan Shalat ini adalah untuk memperingati ketika Kristus berada dalam kubur dan bangkit pada esok harinya, seperti halnya matahari tenggelam dalam kegelapan untuk terbit pada esok harinya.

Shalat Purna Bujana (“Shalat Tidur”, “Completorium”) atau Shalatul Naum (Mzm.4:9). Shalat ini sebanding dengan “Shalat Isya” dalam agama Islam (jam 8-12 malam), yang mempunyai makna untuk mengingatkan bahwa pada saat malam seperti inilah Kristus tergeletak dalam kuburan dan tidur yang akan dilakukan itu adalah gambaran dari kematian itu.

Shalat Tengah Malam (“Sembahyang Ratri Madya”, “Prima”) atau Shalatul Lail atau “Shalat Satar” (Kis.16:25). Shalat ini sebanding dengan “Shalat Tahajjud” dalam agama Islam. Shalat tengah malam ini mengandung pengertian bahwa Kristus akan datang seperti pencuri di tengah malam (Mat.24:42; Luk.21:26; Why.16:15), hingga demikian hal itu mengingatkan orang percaya untuk tetap selalu berjaga-jaga dalam menghidupi imannya[17].

Rashid Rahman mengatakan mengenai latar belakang ibadah harian dalam gereja sbb, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang tersebut dapat berupa kontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah Yudaisme”[18]. Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian”[19]

Waktu doa harian dalam Yudaisme disebut dengan Tefilah yang terdiri dari Shakharit (pagi) Minha (siang) dan Maariv (malam). Dalam tradisi Yudaisme, waktu-waktu doa dinamakan  zemanim. Pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadahan di Bait Suci (Kel 29:38-42; Bil 28:1-8). Nabi-nabi dan raja-raja di Israel kuno melaksanakan tefilah harian sbb :
Daud (Mzm 55:17)
Daniel (Dan 6:11)
Ezra (Ezr 9:5)
Yesus Sang Mesias (Luk 6:12)
Petrus dan Yohanes (Kis 3:1)
Petrus dan Kornelius (Kis 10:3,9)[20]

 Para nabi dan rasul pun melaksanakan ibadah dengan berbagai sikap atau postur tubuh yang tertentu al :
Berdiri (Ul 29:10, , Mzm 76:8)
Bersujud (Mzm 96:9, Mat 26:39)
Berlutut (Mzm 95:6, Kis 20:36)
Mengangkat kedua tangan (Rat 3:41; Mzm 134:2)[21]

 Shalat Dalam Islam: Pelestarian Atau Peniruan?

[Bukan Peniruan, tapi melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla-AZ.]

Nampaknya terlalu sarkastis dan over simplicity (terlalu menyederhanakan) apabila beranggapan bahwa ritual Shalat dalam Islam sebagai bentuk peniruan dari ritual Ashabus Sholawat atau Liturgia Horarum dan Tefilah dalam Yudaisme. Saya lebih melihat bahwa eksistensi ritual Shalat dalam Islam sebagai bentuk pelestarian dari tradisi Semitik dalam pemeliharaan ibadah harian yang mulai hilang dalam gereja-gereja Barat khususnya aliran Protestan.

Terlepas dari persoalan bahwa Kristen dan Islam tidak menyembah Tuhan yang sama dan memiliki konsep dan pemahaman yang berbeda mengenai fungsi dan kedudukan ibadah harian namun keberadaan ritual Shalat dalam Islam justru mengingatkan Gereja dan Kekristenan bahwa Gereja dan Kekristenan perdana lahir dan tumbuh dari rahim Yudaisme. Gereja dan Kekristenan lahir dan dibesarkan di dunia Timur yang sarat dengan kekayaan spiritualitas dan keshalehan.

Yudaisme sebagai ibu kandung Kekristenan perdana telah mewariskan ibadah harian yang disebut Tefilah dan yang kemudian dilestarikan dalam kepercayaan baru kepada Yesus Sang Mesias sehingga melahirkan pola ibadah harian Tselota atau Ashabus Shalawat atau Liturgia Horarum[22]. Akibat Gereja dan Kekristenan tercerabut dari akar Semitik Yudaiknya maka banyak aspek penting dalam peribadatan menjadi hilang dan terlupakan dalam Kekristenan khususnya aliran Reformasi. Dan salah satu aspek yang hilang itu adalah ibadah harian.

Rabbi Moshe Maimonides pernah mengatakan bahwa kehadiran Islam adalah untuk meratakan jalan bagi Mesias yang akan datang karena eksistensi Torah diaktualisasikan dalam format yang baru dalam Islam. Namun saya lebih melihat bahwa kehadiran Islam dengan ritual Shalatnya, menjadi alat Tuhan untuk mengingatkan Gereja dan Kekristenan (khususnya Barat) untuk menelusuri akar keimanannya yang berasal dari tradisi Timur yaitu Semitik-Yudaik yang lebih dahulu memelihara ibadah harian.

Pernyataan bahwa Islam menjadi “alat Tuhan” bukan berarti saya menyetujui doktrin-doktrin Islam khususnya kenabian Muhamad sebagai kelanjutan agama Yahudi dan Kristen dan pelucutan aspek Keilahian Yesus menjadi sekedar nabi serta doktrin-doktrin lain. Pernyataan ini tidak lebih sebagai bentuk refleksi dan introspeksi terhadap beberapa aspek yang hilang dari Kekristenan dan seharusnya ada dan dilakukan oleh Kekristenan.

Jika Tuhan YHWH bisa membuka mulut keledai Bileam dan berbicara padanya sehingga mencegah Bileam mengutuki Israel (Bil 22:28). Dan jika Tuhan YHWH bisa memakai Raja kafir Persia bernama Koresh untuk mengalahkan bangsa-bangsa yang menjajah Israel (Yes 45:1), mengapa pula Tuhan tidak bisa memakai orang lain atau komunitas lain untuk menjadi alat-Nya?

Kita kerap memperlakukan bidat-bidat dalam Gereja sebagai penyakit menular yang membahayakan namun tidak mau introspeksi dan berefleksi bahwa kemunculan bidat-bidat bisa jadi sebuah peringatan bahwa Gereja telah kehilangan kasih yang mula-mula atau mengabaikan ajaran dasar Yesus dan menjauh dari jalan para rasul Mesias, seperti pernah dikatakan Alm DR. J. Verkuyl dalam bukunya Gereja dan Bidat-bidat, bahwasanya keberadaan bidat adalah “hutang Gereja”.

 Panggilan Bagi Gereja dan Kekristenan Untuk Kembali Ke Akar Imannya

Keberadaan Gereja Orthodox di Indonesia (masuk ke Indonesia sekitar tahun 90-an) dan Messianic Judaism (masuk ke Indonesia sekitar awal tahun 2000-an) merupakan alat Tuhan yang sesungguhnya agar Gereja dan Kekristenan menyadari akar dan tradisi iman yang berasal dari budaya Semitik.

Sejak awal kuliah Teologi, saya tidak pernah mendengar apa dan bagaimana perihal Gereja Ortodox. Yang saya tahu hanyalah Katolik dan aliran Reformasi serta pecahan-pecahannya. Literatur Teologi yang saya baca pun tidak pernah memberitahukan keberadaan Ortodox. Kalaupun diinformasikan hanya sambil lalu saja. Informasi mengenai akar Kekristenan yang berasal dari Yudaisme pun sangat minim untuk saya dapatkan.

Keberadaan Gereja Orthodox menyadarkan Gereja dan Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa Gereja Perdana berhasil memelihara rantai dan suksesi rasuliah hingga kini. Bahkan berbagai ritual ibadah al: ibadah harian masih tetap terpelihara hingga hari ini sementara Gereja beraliran Reformasi lebih menekankan doa-doa spontan.

Keberadaan Messianic Judaism menyadarkan Gereja dan Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa umat Yahudi bukan umat yang dibuang dan dilupakan Tuhan serta telah digantikan oleh Gereja. Banyak orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus sebagai Mesias dan melestarikan peribadahan yang berakar pada Yudaisme sebagai Mesias dan rasul-rasulnya melakukan. Dan salah satunya adalah ibadah harian yang disebut Tefilah. Dan mereka tidak menyebut diri mereka Kristen namun Messianic Jewish atau Messianic Judaism.

Penutup

Kiranya kajian singkat yang menelusuri asal usul ritual Shalat dalam Islam yang dapat dilacak sampai Yudaisme dan Kekristenan awal, dapat membuka wawasan bersama baik Islam maupun Kristen mengenai akar tradisi imannya yang berasal dari Timur yaitu tradisi Semitik. Bukan hanya berhenti dalam pembukaan wawasan namun mendorong kedua belah pihak saling menghargai dan menghormati sebagai agama-agama yang datang dari budaya Semitik.

Tambahan dari Akhirzaman.info [AZ]: Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa baik agama Yahudi dan agama Nashrani, keduanya merupakan agama samawi yang ajaran-ajarannya kemudian disempurnakan Allah Azza wa Jalla di dalam agama Islam sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS al-Ma’idah 5:3].  Oleh karena itu, Tuhan yang disembah oleh ketiga agama samawi tersebut adalah sama, yaitu Allah Azza wa Jalla, tidak sebagaimana dijelaskan dalam tulisan di atas.

End Notes:
Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Ensiklopedi Muslim – Minhajul Muslim, Jakarta: Darul Falah 2003, hal 298
Ibid., 299
Ibid.,
Dalil-Dalil Al Qur’an Tentang Shalat, http://usupress.usu.ac.id/files/Dalili dalil%20Al%20Qur'an%20tentang%20Shalat_Final_bab%201.pdf
Ibid., hal 300
 http://allah-semata.org/forum/index.php?topic=531.0
Drs. Miftah Faridl, Pokok-Pokok Ajaran Islam, Bandung: Pustaka, 1995, hal 95-96
Asal Usul Shalat Lima Waktu, http://bahesti.wordpress.com/2010/12/07/asal-usul-shalat-lima-waktu/ Band. Asal Usul Shalat, http://agama.kompasiana.com/2010/05/24/asal-usul-Shalat/
http://www.indoquran.com/id/hadithbukhariterjemahan/surah/8.html
Op.Cit., Ensiklopedi Muslim – Minhajul Muslim,, hal 302-303
Presbyter Rm.Kirill J.S.L, Shalat dalam Gereja Mula-mula (Orthodox), http://www.facebook.com/note.php?note_id=407572576908
Bambang Noorsena, Sekilas Soal Shalat Tujuh Waktu Dalam Gereja Orthodox, dalam PENSYL, No 29/III/1996
Syeikh Efraim Bar Nabba Bambang Noorsena, Selayang Pandang Tentang Shalat Tujuh Waktu Dalam Kanisah Orthodox Syria, Surabaya, 19 Juni 1998_________________
Bernardus Boli Ujan, SVD., Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa Henti Semua Anggota Gereja, Maumere: Ledalero, 2003, hal 10
Ibid 10
Ibid., hal 11-12
Shalat Tujuh Waktu, http://orthodoxkristen.multiply.com/journal/item/4
Ibadah Harian Zaman Patristik, Bintang Fajar, 2000, hal 5
Ibid., hal 36
Teguh Hindarto, Tefilah: Ibadah Harian Kekristenan, http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/tefilah.html
Ibid.,
Teguh Hindarto, Apakah Kekristenan Berbeda Dengan Yudaisme? http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-kekristenan-berbeda-dengan.html

Sumber: Messianic-Indonesia
Shalat dalam Islam: Jejak Ibadah Harian Yudaisme dan Kekristenan Awal





 Pendahuluan

Islam mengenal Rukun Iman yang terdiri dari Sahadat, Shalat, Shaum, Zakat, Jihad sebagaimana dikatakan, “Islam dibangun di atas lima: Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhamad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan “(Diriwayatkan Al Bukhari)[1].

Shalat, dalam Islam menempati kedudukan yang sangat penting yaitu sebagai tiangnya agama sebagaimana dikatakan dalam sebuah Hadits, “Pokok segala sesuatu ialah Islam, tiangnya ialah shalat dan puncaknya ialah jihad di jalan Allah” (Diriwayatkan Muslim)[2]. Hadits yang lain mengatakan, “Bahkan pembeda antara orang kafir dan Muslim adalah Shalat sebagaimana dikatakan, “Jarak antara seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan shalat” (Diriwayatkan Muslim)[3].

Shalat adalah sebuah kewajiban agamawi yang tidak bisa ditawar-tawar sebagaimana dikatakan, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (Qs 4:103).

 Perintah Melaksanakan Shalat Dalam Quran

Ada banyak ayat dalam Qur’an yang memerintahkan untuk melaksanakan Shalat. Menurut para ahli agama Islam, ada sekitar 30 perintah melaksanakan Shalat[4]. Berikut sebagian dari perintah Shalat al:

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu” (Qs al-Baqarah 2:238)

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku” (Qs al-Baqarah 2:43)

“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (Qs Hud 11:114)

“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (Qs al-Isra’ 17:78)

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji” (Qs al-Isra’ 17:79)

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs Thaha 20:14)

Keutamaan Shalat

Sebagai kewajiban dalam beribadah maka Shalat memiliki keutamaan dalam ajaran Islam. Beberapa keutamaan yang dimaksudkan adalah sbb:

Mencegah berbuat kejahatan

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs al-Ankabut 29:45)

Mendapatkan Pahala

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (Qs al-Baqarah 2:277)

Menghapus Dosa

“Perumpamaan shalat-shalat lima waktu adalah seperti air tawar yang melimpah di pintu rumah salah seorang dari kalian dimana ia mandi di dalamnya lima kali dalam setiap hari, maka bagaimana menurut kalian apakah masih tersisa sedikit pun kotoran padanya? Para sahabat menjawab, ‘Tidak tersisa’. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya shalat lima waktu itu menghilangkasn dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan kotoran” (Diriwayatkan Muslim)[5].

Tata Cara Shalat

Al Qur’an sendiri tidak memberikan pedoman mendetail perihal tata cara Shalat sebagaimana dikatakan seorang Muslim, “Tata cara ritual Shalat lima waktu yang kita kenal sekarang dan merupakan hal yang paling penting wajib dilakukan penganut agama Islam jika tidak ingin masuk neraka, ternyata tidak ditemukan dalam Quran”[6]

Tata cara Shalat dalam Islam didasarkan pada petunjuk perilaku ibadah Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang memberikan petunjuk dan teladan dalam melaksanakan Shalat. Dalam salah satu Hadits dikatakan, “Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya ialah takbir dan penghalalnya ialah salam” (Diriwayatkan Abu Daud dan At Tirmidzi).

Adapun tata cara Shalat berdasarkan catatan Hadits adalah sbb:

Takbiratul ihram, yaitu setelah berdiri menghadap kiblat, kemudian mengangkat kedua tangan sampai ibu jari berada pada ujung telinga bagian bawah, sambil mengucapkan Allahu Akbar. Ditambah membaca doa Iftitah dan Al Fatihah.
Ruku
I’tidal
Sujud
Duduk diantara dua sujud
Sujud
Duduk Tasyahud
Salam ke kana dan ke kiri[7]

 Asal Usul Perintah Shalat dan Penetapan Waktu Shalat

Tidak ada kejelasan darimana asal usul penetapan lima waktu Shalat. Setidaknya ada beberapa penjelasan yang tidak sinkron satu sama lainnya sbb: 

[Menurut kami baik al-Qur’an maupun al-Hadits menjelaskan perintah shalat dengan sangat jelas dan sinkron satu dengan yang lainnya, kemungkinan penulis artikel ini bukan seorang muslim sehingga tidak memahami pesan-pesan yang disampaikan Allah Azza wa Jalla di dalam al-Qur’an maupun sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits shahih yang berkaitan dengan perintah mendirikan shalat dan tata cara pelaksanaannya -  AZ]

Meniru Perilaku Para Nabi Terdahulu

Nabi Adam adalah nabi pertama yang mengajarkan shalat subuh. Saat itu, beliau baru saja diturunkan dari surga ke dunia oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala karena sudah melanggar larangan Allah.  Saat itu, bumi masih gelap gulita. Nabi Adam merasa sangat ketakutan karena baru sekali itu menginjakkan kakinya di dunia dan kegelapan yang menyambutnya. Saat Subuh menjelang dan matahari mulai terbit, Nabi Adam pun melaksanakan shalat dua rakaat sebagai tanda syukur karena sudah terbebas dari kegelapan malam dan diberikan cahaya matahari sebagai gantinya.

Nabi Ibrahim adalah nabi yang pertama mengerjakan Shalat Dzuhur. Beliau melakukan shalat sebanyak empat rakaat setelah beliau mendapat wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menyembelih puteranya, Nabi Isma’il dengan seekor domba kurban. Shalat ini didirikan oleh Nabi Ibrahim pada saat matahari sudah tepat di atas ubun-ubun kepala.

Nabi Yunus adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat Asar. Saat itu, Nabi Yunus baru saja dimuntahkan oleh ikan paus yang sudah menelannya selama beberapa waktu lamanya. Berdiam lama di dalam perut ikan paus yang penuh dengan kegelapan membuat Nabi Yunus teringat dengan segala dosa-dosa yang sudah dilakukannya. Oleh karena tu, ketika ikan paus memuntahkan dan melemparkannya ke sebuah pantai yang tandus, beliau langsung mendirikan shalat empat rakaat. Shalat ini sebagai rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena telah terbebas dari dalam perut ikan paus dan kegelapan yang sudah menutupi mata dan hatinya selama ini. Nabi Yunus mendirikan shalat ini ketika waktu sudah memasuki waktu shalat Asar.

Nabi Isa adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat Maghrib. Beliau melaksanakan Shalat Maghrib keika Allah Subhanahu wa Ta'ala menyelamatkannya dari kejahilan dan kebodohan kaumnya sendiri. Shalat itu didirikan tiga rakaat pada saat matahari sudah terbenam. Nabi Isa melakukan shalat ini sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala karena sudah diselamatkan dari kejahilan tersebut.

Nabi Musa adalah nabi pertama yang mengerjakan shalat Isya. Saat itu Nabi Musa dan isterinya, Shafura, sedang dalam perjalanan menuju tanah kelahiran Nabi Musa di Mesir setelah sebelumnya tingal bersama Syuaib.  Mereka kesulitan mencari jalan keluar yang aman dari Madyan karena tentara Fir’aun sedang mencarinya di seluruh penjuru negeri.  Sementara itu, Nabi Musa takut tentara Fir’aun akan menemukannya dan menyerahkannya pada Fir’aun yang zalim. Kegundahan Nabi Musa akhirnya didengar Allah Subhanahu wa Ta'ala yang langsung menghilangkan rasa gundah itu dari hati Nabi Musa. Sebagai rasa syukur, Nabi Musa mendirikan shalat empat rakaat pada saat malam hari.

Pada peristiwa Isra dan Mi’raj. Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  melakukan perjalanan menaiki Buraq dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian diterbangkan ke langit tertinggi yang disebut Sidratul Muntaha oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam peristiwa ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk menyempurnakan kelima shalat ini dalam lima waktu yang harus dilaksanakan satu hari satu malam. Peristiwa Isra Mi’raj ini menjadi tonggak bagi umat Islam karena pada saat itulah kewajiban shalat lima waktu  diwajibkan bagi seluruh umat Islam[8].

Perintah Yang Diterima Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam Saat Mi’raj

Menurut Hadits Shahih Bukhari 8.1/336 dikisahkan sbb,

“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik berkata, Abu Dzar menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Saat aku di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang Malaikat Jibril Alaihis Salam. Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya dengan menggunakan air zamzam. Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi hikmah dan iman, lalu dituangnya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Lalu dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia. Tatkala aku sudah sampai di langit dunia, Jibril Alaihis Salam berkata kepada Malaikat penjaga langit, 'Bukalah'. Malaikat penjaga langit berkata, 'Siapa Ini? ' Jibril menjawab, 'Ini Jibril'. Malaikat penjaga langit bertanya lagi, 'Apakah kamu bersama orang lain? ' Jibril menjawab, Ya, bersamaku Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.' Penjaga itu bertanya lagi, 'Apakah dia diutus sebagai Rasul? ' Jibril menjawab, 'Benar.' Ketika dibuka dan kami sampai di langit dunia, ketika itu ada seseorang yang sedang duduk, di sebelah kanan orang itu ada sekelompok manusia begitu juga di sebelah kirinya. Apabila dia melihat kepada sekelompok orang yang di sebelah kanannya ia tertawa, dan bila melihat ke kirinya ia menangis. Lalu orang itu berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, Dialah Adam Alaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan dan kirinya adalah ruh-ruh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah kanannya adalah para ahli surga sedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahli neraka. Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang ke sebelah kirinya dia menangis.' Kemudian aku dibawa menuju ke langit kedua, Jibril lalu berkata kepada penjaganya seperti terhadap penjaga langit pertama. Maka langit pun dibuka'.  Anas berkata, Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa pada tingkatan langit-langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, 'Isa dan Ibrahim semoga Allah memberi shalawat-Nya kepada mereka. Beliau tidak menceritakan kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahwa beliau bertemu Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam.  Anas melanjutkan, Ketika Jibril berjalan bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Idris.' Lalu aku berjalan melewati Musa, ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Musa.' Kemudian aku berjalan melewati 'Isa, dan ia pun berkata, 'Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah 'Isa.' Kemudian aku melewati Ibrahim dan ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Ibrahim Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.' Ibnu Syihab berkata, Ibnu Hazm mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu 'Abbas dan Abu Habbah Al Anshari keduanya berkata, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Kemudian aku dimi'rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapat mendengar suara pena yang menulis. Ibnu Hazm berkata,  Anas bin Malik menyebutkan, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam  bersabda: Kemudian Allah 'Azza wa Jalla mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, 'Apa yang Allah perintahkan buat umatmu? ' Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! ' Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. Tapi ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.' Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian aku kembali menemui Musa, ia lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan sanggup.' Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala, Allah lalu berfirman: 'Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi perubahan keputusan di sisi-Ku! ' Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali berkata, 'Kembailah kepada Rabb-Mu! ' Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabb-ku.' Jibril lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha yang diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu. Kemudian aku dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi.”[9]

Malaikat Jibril Mengajari Waktu Shalat

“Malaikat Jibril turun kemudian mengajari Rasullah Shallallahu Alaihi wa Sallam waktu-waktu shalat.  Malaikat Jibril berkata kepada beliau, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Dhuhur ketika matahari telah bergeser dari tengah-tengah langit. Pada waktu Ashar, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Ashar ketika bayangan segala sesuatu persis seperti aslinya. Pada waktu Maghrib, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Maghrib ketika matahari telah terbenam. Ketika waktu Isya telah tiba, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Isya ketika sinar merah matahari telah hilang. Ketika fajar telah terbit. Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Shubuh ketika fajar telah menyingsing. Keesokan harinya Malaikat Jibril pun datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan memerintahkan hal yang sama kepada beliau. Setelah itu Malaikat Jibril berkata, ‘Waktu shalat ialah diantara kedua waktu tersebut” (Diriwayatkan Ahmad dan Nasai)[10]

Ibadah Shalat Sebelum Islam

Menurut Al Qur’an para nabi sebelum Islam diwahyukan pada Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sudah mengenal dan melaksanaka ibadah Shalat. Agak membingungkan juga, bagaimana mungkin jika Shalat Lima Waktu diwahyukan pada Muhamad saat Mikraj ke Sidratul Muntaha, padahal ibadah Shalat sudah dilaksanakan sejak zaman para nabi?

[sebenarnya tidak membingungkan, sewaktu Isra’ Mi’raj Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menerima perintah shalat lima waktu sekaligus, sedangkan para Nabi yang mengerjakan sebelumnya hanya melaksanakan shalat pada waktu-waktu tertentu, seperti Nabi Adam as hanya melaksanakan shalat Shubuh dst-AZ]

Kita tinggalkan sejenak persoalan di atas dan kita akan menyimak dalil-dalil Qur’an yang mengatakan bahwa ibadah Shalat sudah dilakukan sejak nabi-nabi terdahulu seperti Ibrahim, Musa, Isa  sbb:

“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang shaleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (Qs al-Anbiya 21:72-73)

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs Thaha 20:13-14)

“Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup” (Qs Maryam 19:30-31)

Jejak Tefilah Yudaisme dan Liturgia Horarum Kristen

Ketika Khalifah Umar bin Khatab, memasuki Yerusalem pada tahun 636, dia disambut oleh Sophronius I (634-638), Patriarkh dan Uskup Agung Gereja Orthodox Yerusalem dan diantarkan ke tempat ibadah Kristen yang paling suci, Gereja Makam Suci (Holy Sepulchere Church). Ketika ia hendak memasuki tempat suci itu terdengar adzan Shalat Dzuhur. Uskup Sophronius adalah seorang tuan rumah yang penuh hormat, maka ia bertanya kepada Sang Khalifah: “Tidakkah tuan akan menjalankan Shalat? Akan saya ambilkan sehelai sajadah untuk Anda dan Anda akan dapat menjalankan Shalat di sini”. Sang Khalifah berpikir sejenak dan berkata: “Terima kasih, tetapi maaf. Jika saya menjalankan Shalat di tempat suci Anda, para ummat saya akan menirunya dan merebut tempat ini. Saya akan pergi ke tempat yang agak terpisah”. Maka ia pun pergi menjauh dan menjalankan Shalatnya di tempat yang sekarang merupakan sebuah masjid di dekat situ. Dari kisah nyata dalam sejarah ini tahulah kita bahwa Gereja Kristen Perdana sejak awal (sebelum kedatangan pasukan dan kaum Muslim) sudah melakukan Shalat[11].

Jika Anda seorang Kristen yang dibesarkan dalam tradisi gereja-gereja Reformasi dari Barat baik Protestan, Baptis atau aliran-aliran Pentakosta serta Kharismatik, mungkin terasa asing mendengar istilah Shalat dalam Kekristenan.

Namun itulah kenyataan historis bahwa jauh sebelum Islam menjadi agama yang memiliki pengaruh di dunia dan Indonesia khususnya dan memiliki ritual ibadah Shalat, Kekristenan Timur yaitu Gereja Orthodox telah mengenal ibadah harian yang disebut Ashabus Shalawat.

Dalam Gereja Orthodox ada dua bentuk Sembahyang Harian yang mengikuti aturan tertentu ini, yaitu yang mengikuti cara Nabi Daniel : Tiga Kali sehari (Dan. 6:11-12, Mzm. 55:18), atau juga mengikuti pola yang dikatakan oleh Nabi Daud: ”Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau…” (Mzm. 119:164). Sembahyang tiga kali itu terdiri dari: Pagi, Tengah-Hari, dan Sore Hari (Mazmur 55:18). Waktu-waktu Sembahyang itu sendiri sudah dimulai sejak zaman Nabi Musa. Tuhan memerintahkan agar Imam Harun mempersembahkan korban binatang dan korban dupa pada “Waktu Pagi” dan “Waktu Senja” (Kel. 29:38-39, 30:7-8).

Kata Shalat itu sendiri dalam bahasa Arab, serumpun dengan kata Tselota dalam bahasa Arami (Syria) yaitu bahasa yang digunakan oleh Yesus sewaktu hidup di dunia. Dan bagi ummat Kristen Orthodox Arab yaitu ummat Kristen Orthodox yang berada di Mesir, Palestina, Yordania, Libanon dan daerah Timur-Tengah lainnya menggunakan kataTselota tadi dalam bentuk bahasa Arab Shalat, sehingga doa “Bapa kami” oleh ummat Kristen Orthodox Arab disebut sebagai Shalattul Rabbaniyah.

Sebagaimana dikatakan sebelumnya, Gereja Orthodox, seperti Syria dan Mesir, mengenal liturgi doa harian yang disebut, Ashabush Sholawat, [12] yang terdiri dari :
Shalat Sa’atul Awwal (Shalat jam pertama, jam 06.00)
Shalat Sa’atuts Tsalits, (Shalat jam ketiga, jam 09.0)
Shalat Sa’atus Sadis, (Shalat jam keenam, jam 12.00)
Shalat Sa’atut Tis’ah, (Shalat jam kesembilan, jam 15.00)
Shalat Ghurub, (Shalat terbenamnya matahari, jam 18.00)
Shalat Naum (Shalat malam, jam 19.00)
Shalat Satar (Shalat tutup malam, jam 24.00)

 Sementara Gereja Katholik di Abad Pertengahan mengenal    yang disebut De Liturgia Horarum [13] yaitu :
Laudes (Doa pagi)
Hora Tertia (Doa jam ketiga)
Hora Sexta (Doa jam keenam)
Hora Nona (Doa jam kesembilan)
Verper (Doa senja)
Vigil (Doa malam)
Copletorium (Doa penutup)

 Istilah Liturgia Horarum dalam bahasa Inggris disebut “Liturgy of the Hours” (Liturgi Waktu). Nama ini mulai dipakai untuk pertama kali pada tahun 1959 dan menjadi populer selama Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Liturgi. Nama ini memperlihatkan bahwa ibadat ini dijalankan sesuai dengan jam atau waktu tertentu setiap hari yang pada dasarnya mempunyai arti simbolis sepeti terungkap dalam doa-doa yang dipakai dalam ibadat ini[14].

Disebut Liturgi karena ibadat ini sesungguhnya adalah doa atau kegiatan rohani seluruh umat sebagai Gereja dalam arti sebenarnya. Istilah harian (jam harian) menyatakan bahwa ibadat ini menguduskan waktu, jam siang dan malam. Sebenarnya dalam ibadat ini umat mengalami Tuhan yang tidak kenal waktu, yang abadi dan kudus. Oleh pengalaman berahmat itu manusia dikuduskan dalam waktu, hidup dan karyanya sehari-hari diberkati dan dikuduskan oleh Tuhan, saat atau sejarah hidupnya menjadi saat yang penuh rahmat dan menyelamatkan[15].

Dalam perspektif Roma Katholik yang mengacu pada istilah Latin, ada beberapa istilah yang dipergunakan selain Liturgia Horarum yaitu Ofisi Ilahi (Oficium: Kegiatan, Kewajiban), Brevir (Breviarum: Ringkasan, Singkatan), Opus Dei (Karya Tuhan), Pensum Servitutis (Takaran Pelayanan), Horae Canonicae (Jam-jam wajib), Horologion (Jam-jam doa)[16].

Lebih jauh makna dari Ashabus Shalawat sbb:

Shalat Jam Pertama (Sembahyang Singsing Fajar, Orthros, Matinus, Laudes) atau Shalatus Sa’atul Awwal (Shalatus Shakhar), yaitu ibadah pagi sebanding dengan “Shalat Subuh” dalam agama Islam (jam 5-6 pagi). Data ini diambil dari Kitab Keluaran 29:38-41 berkenaan dengan ibadah korban pagi dan petang, yang dalam Gereja dihayati sebagai peringatan lahirnya Sang Sabda Menjelma sebagai Sang Terang Dunia (Yoh.8:12).

Shalat Jam Ketiga (Sembahyang Jam Ketiga, Tercia) atau Shalatus Sa’atus Tsalitsu, Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dhuha” dalam agama Islam meskipun bukan Shalat wajib (jam 9-11 pagi). Ini terungkap dalam Kitab Kisah Para Rasul 2:1,15 yang mempunyai pengertian penyaliban Yesus dan juga turunnya Sang Roh Kudus (Mrk.15:25; Kis.2:1-12,15). Itu sebabnya dengan Shalat ini, kita teringatkan agar mempunyai tekad dan kerinduan untuk menyalibkan dan memerangi hawa nafsu sendiri, agar rahmat Allah dalam Roh Kudus melimpah dalam hidup.

Shalat Jam Keenam (“Sembahyang Jam Keenam”, “Sexta”) atau Shalatus Sa’atus Sadis. Ini nyata terlihat dalam Kisah Para Rasul 10:9 dan Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dzuhur” dalam agama Islam (jam 12-1 tengah hari), yang mempunyai makna sebagai peringatan akan penderitaan Kristus di atas salib (Luk.23:44-45), dan pencuri yang disalib bersama-sama Kristus bertobat. Berpijak dari makna ini, kitapun diharapkan seperti pencuri selalu ingat akan hidup pertobatan dan selalu memohon rahmat Ilahi agar mampu mencapai tujuan hidup yaitu masuk dalam kerajaan Tuhan.

Shalat Jam Kesembilan (“Sembahyang Jam Kesembilan”, “Nona”) atau Shalatus Sa’atus Tis’ah (Kis.3:1) sebanding dengan “Shalat Asyar” dalam agama Islam (jam 3-4 sore). Shalat ini dilakukan untuk mengingatkan saat Kristus menghembuskan nafas terakhirNya di atas salib (Mrk.15:34-37), sekaligus untuk mengingatkan bahwa kematian Kristus di atas salib adalah untuk menebus dosa-dosa, agar manusia dapat melihat dan merasakan rahmat Ilahi.

Shalat Senja (“Sembahyang Senja”, “Esperinos”, “Vesperus”) atau Shalatul Ghurub. Shalat ini sebanding dengan “Shalat Maghrib” dalam agama Islam (kira-kira jam 6 sore), sama seperti Shalat jam pertama, Shalat ini dilatar belakangi oleh ibadah korban pagi dan petang yang terdapat dalam Kitab Keluaran 29:38-41. Makna dan tujuan Shalat ini adalah untuk memperingati ketika Kristus berada dalam kubur dan bangkit pada esok harinya, seperti halnya matahari tenggelam dalam kegelapan untuk terbit pada esok harinya.

Shalat Purna Bujana (“Shalat Tidur”, “Completorium”) atau Shalatul Naum (Mzm.4:9). Shalat ini sebanding dengan “Shalat Isya” dalam agama Islam (jam 8-12 malam), yang mempunyai makna untuk mengingatkan bahwa pada saat malam seperti inilah Kristus tergeletak dalam kuburan dan tidur yang akan dilakukan itu adalah gambaran dari kematian itu.

Shalat Tengah Malam (“Sembahyang Ratri Madya”, “Prima”) atau Shalatul Lail atau “Shalat Satar” (Kis.16:25). Shalat ini sebanding dengan “Shalat Tahajjud” dalam agama Islam. Shalat tengah malam ini mengandung pengertian bahwa Kristus akan datang seperti pencuri di tengah malam (Mat.24:42; Luk.21:26; Why.16:15), hingga demikian hal itu mengingatkan orang percaya untuk tetap selalu berjaga-jaga dalam menghidupi imannya[17].

Rashid Rahman mengatakan mengenai latar belakang ibadah harian dalam gereja sbb, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang tersebut dapat berupa kontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah Yudaisme”[18]. Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian”[19]

Waktu doa harian dalam Yudaisme disebut dengan Tefilah yang terdiri dari Shakharit (pagi) Minha (siang) dan Maariv (malam). Dalam tradisi Yudaisme, waktu-waktu doa dinamakan  zemanim. Pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadahan di Bait Suci (Kel 29:38-42; Bil 28:1-8). Nabi-nabi dan raja-raja di Israel kuno melaksanakan tefilah harian sbb :
Daud (Mzm 55:17)
Daniel (Dan 6:11)
Ezra (Ezr 9:5)
Yesus Sang Mesias (Luk 6:12)
Petrus dan Yohanes (Kis 3:1)
Petrus dan Kornelius (Kis 10:3,9)[20]

 Para nabi dan rasul pun melaksanakan ibadah dengan berbagai sikap atau postur tubuh yang tertentu al :
Berdiri (Ul 29:10, , Mzm 76:8)
Bersujud (Mzm 96:9, Mat 26:39)
Berlutut (Mzm 95:6, Kis 20:36)
Mengangkat kedua tangan (Rat 3:41; Mzm 134:2)[21]

 Shalat Dalam Islam: Pelestarian Atau Peniruan?

[Bukan Peniruan, tapi melaksanakan perintah Allah Azza wa Jalla-AZ.]

Nampaknya terlalu sarkastis dan over simplicity (terlalu menyederhanakan) apabila beranggapan bahwa ritual Shalat dalam Islam sebagai bentuk peniruan dari ritual Ashabus Sholawat atau Liturgia Horarum dan Tefilah dalam Yudaisme. Saya lebih melihat bahwa eksistensi ritual Shalat dalam Islam sebagai bentuk pelestarian dari tradisi Semitik dalam pemeliharaan ibadah harian yang mulai hilang dalam gereja-gereja Barat khususnya aliran Protestan.

Terlepas dari persoalan bahwa Kristen dan Islam tidak menyembah Tuhan yang sama dan memiliki konsep dan pemahaman yang berbeda mengenai fungsi dan kedudukan ibadah harian namun keberadaan ritual Shalat dalam Islam justru mengingatkan Gereja dan Kekristenan bahwa Gereja dan Kekristenan perdana lahir dan tumbuh dari rahim Yudaisme. Gereja dan Kekristenan lahir dan dibesarkan di dunia Timur yang sarat dengan kekayaan spiritualitas dan keshalehan.

Yudaisme sebagai ibu kandung Kekristenan perdana telah mewariskan ibadah harian yang disebut Tefilah dan yang kemudian dilestarikan dalam kepercayaan baru kepada Yesus Sang Mesias sehingga melahirkan pola ibadah harian Tselota atau Ashabus Shalawat atau Liturgia Horarum[22]. Akibat Gereja dan Kekristenan tercerabut dari akar Semitik Yudaiknya maka banyak aspek penting dalam peribadatan menjadi hilang dan terlupakan dalam Kekristenan khususnya aliran Reformasi. Dan salah satu aspek yang hilang itu adalah ibadah harian.

Rabbi Moshe Maimonides pernah mengatakan bahwa kehadiran Islam adalah untuk meratakan jalan bagi Mesias yang akan datang karena eksistensi Torah diaktualisasikan dalam format yang baru dalam Islam. Namun saya lebih melihat bahwa kehadiran Islam dengan ritual Shalatnya, menjadi alat Tuhan untuk mengingatkan Gereja dan Kekristenan (khususnya Barat) untuk menelusuri akar keimanannya yang berasal dari tradisi Timur yaitu Semitik-Yudaik yang lebih dahulu memelihara ibadah harian.

Pernyataan bahwa Islam menjadi “alat Tuhan” bukan berarti saya menyetujui doktrin-doktrin Islam khususnya kenabian Muhamad sebagai kelanjutan agama Yahudi dan Kristen dan pelucutan aspek Keilahian Yesus menjadi sekedar nabi serta doktrin-doktrin lain. Pernyataan ini tidak lebih sebagai bentuk refleksi dan introspeksi terhadap beberapa aspek yang hilang dari Kekristenan dan seharusnya ada dan dilakukan oleh Kekristenan.

Jika Tuhan YHWH bisa membuka mulut keledai Bileam dan berbicara padanya sehingga mencegah Bileam mengutuki Israel (Bil 22:28). Dan jika Tuhan YHWH bisa memakai Raja kafir Persia bernama Koresh untuk mengalahkan bangsa-bangsa yang menjajah Israel (Yes 45:1), mengapa pula Tuhan tidak bisa memakai orang lain atau komunitas lain untuk menjadi alat-Nya?

Kita kerap memperlakukan bidat-bidat dalam Gereja sebagai penyakit menular yang membahayakan namun tidak mau introspeksi dan berefleksi bahwa kemunculan bidat-bidat bisa jadi sebuah peringatan bahwa Gereja telah kehilangan kasih yang mula-mula atau mengabaikan ajaran dasar Yesus dan menjauh dari jalan para rasul Mesias, seperti pernah dikatakan Alm DR. J. Verkuyl dalam bukunya Gereja dan Bidat-bidat, bahwasanya keberadaan bidat adalah “hutang Gereja”.

 Panggilan Bagi Gereja dan Kekristenan Untuk Kembali Ke Akar Imannya

Keberadaan Gereja Orthodox di Indonesia (masuk ke Indonesia sekitar tahun 90-an) dan Messianic Judaism (masuk ke Indonesia sekitar awal tahun 2000-an) merupakan alat Tuhan yang sesungguhnya agar Gereja dan Kekristenan menyadari akar dan tradisi iman yang berasal dari budaya Semitik.

Sejak awal kuliah Teologi, saya tidak pernah mendengar apa dan bagaimana perihal Gereja Ortodox. Yang saya tahu hanyalah Katolik dan aliran Reformasi serta pecahan-pecahannya. Literatur Teologi yang saya baca pun tidak pernah memberitahukan keberadaan Ortodox. Kalaupun diinformasikan hanya sambil lalu saja. Informasi mengenai akar Kekristenan yang berasal dari Yudaisme pun sangat minim untuk saya dapatkan.

Keberadaan Gereja Orthodox menyadarkan Gereja dan Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa Gereja Perdana berhasil memelihara rantai dan suksesi rasuliah hingga kini. Bahkan berbagai ritual ibadah al: ibadah harian masih tetap terpelihara hingga hari ini sementara Gereja beraliran Reformasi lebih menekankan doa-doa spontan.

Keberadaan Messianic Judaism menyadarkan Gereja dan Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa umat Yahudi bukan umat yang dibuang dan dilupakan Tuhan serta telah digantikan oleh Gereja. Banyak orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus sebagai Mesias dan melestarikan peribadahan yang berakar pada Yudaisme sebagai Mesias dan rasul-rasulnya melakukan. Dan salah satunya adalah ibadah harian yang disebut Tefilah. Dan mereka tidak menyebut diri mereka Kristen namun Messianic Jewish atau Messianic Judaism.

Penutup

Kiranya kajian singkat yang menelusuri asal usul ritual Shalat dalam Islam yang dapat dilacak sampai Yudaisme dan Kekristenan awal, dapat membuka wawasan bersama baik Islam maupun Kristen mengenai akar tradisi imannya yang berasal dari Timur yaitu tradisi Semitik. Bukan hanya berhenti dalam pembukaan wawasan namun mendorong kedua belah pihak saling menghargai dan menghormati sebagai agama-agama yang datang dari budaya Semitik.

Tambahan dari Akhirzaman.info [AZ]: Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa baik agama Yahudi dan agama Nashrani, keduanya merupakan agama samawi yang ajaran-ajarannya kemudian disempurnakan Allah Azza wa Jalla di dalam agama Islam sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut: “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS al-Ma’idah 5:3].  Oleh karena itu, Tuhan yang disembah oleh ketiga agama samawi tersebut adalah sama, yaitu Allah Azza wa Jalla, tidak sebagaimana dijelaskan dalam tulisan di atas.

End Notes:
Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Ensiklopedi Muslim – Minhajul Muslim, Jakarta: Darul Falah 2003, hal 298
Ibid., 299
Ibid.,
Dalil-Dalil Al Qur’an Tentang Shalat, http://usupress.usu.ac.id/files/Dalili dalil%20Al%20Qur'an%20tentang%20Shalat_Final_bab%201.pdf
Ibid., hal 300
 http://allah-semata.org/forum/index.php?topic=531.0
Drs. Miftah Faridl, Pokok-Pokok Ajaran Islam, Bandung: Pustaka, 1995, hal 95-96
Asal Usul Shalat Lima Waktu, http://bahesti.wordpress.com/2010/12/07/asal-usul-shalat-lima-waktu/ Band. Asal Usul Shalat, http://agama.kompasiana.com/2010/05/24/asal-usul-Shalat/
http://www.indoquran.com/id/hadithbukhariterjemahan/surah/8.html
Op.Cit., Ensiklopedi Muslim – Minhajul Muslim,, hal 302-303
Presbyter Rm.Kirill J.S.L, Shalat dalam Gereja Mula-mula (Orthodox), http://www.facebook.com/note.php?note_id=407572576908
Bambang Noorsena, Sekilas Soal Shalat Tujuh Waktu Dalam Gereja Orthodox, dalam PENSYL, No 29/III/1996
Syeikh Efraim Bar Nabba Bambang Noorsena, Selayang Pandang Tentang Shalat Tujuh Waktu Dalam Kanisah Orthodox Syria, Surabaya, 19 Juni 1998_________________
Bernardus Boli Ujan, SVD., Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa Henti Semua Anggota Gereja, Maumere: Ledalero, 2003, hal 10
Ibid 10
Ibid., hal 11-12
Shalat Tujuh Waktu, http://orthodoxkristen.multiply.com/journal/item/4
Ibadah Harian Zaman Patristik, Bintang Fajar, 2000, hal 5
Ibid., hal 36
Teguh Hindarto, Tefilah: Ibadah Harian Kekristenan, http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/tefilah.html
Ibid.,
Teguh Hindarto, Apakah Kekristenan Berbeda Dengan Yudaisme? http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-kekristenan-berbeda-dengan.html

Sumber: Messianic-Indonesia
v

Andi Maulana Amin

animasi  bergerak gif