Shalat dalam Islam: Jejak Ibadah Harian Yudaisme dan
Kekristenan Awal
Pendahuluan
Islam mengenal Rukun Iman yang terdiri dari Sahadat, Shalat,
Shaum, Zakat, Jihad sebagaimana dikatakan, “Islam dibangun di atas lima:
Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa
Muhamad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke
Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan “(Diriwayatkan Al Bukhari)[1].
Shalat, dalam Islam menempati kedudukan yang sangat penting
yaitu sebagai tiangnya agama sebagaimana dikatakan dalam sebuah Hadits, “Pokok
segala sesuatu ialah Islam, tiangnya ialah shalat dan puncaknya ialah jihad di
jalan Allah” (Diriwayatkan Muslim)[2]. Hadits yang lain mengatakan, “Bahkan
pembeda antara orang kafir dan Muslim adalah Shalat sebagaimana dikatakan,
“Jarak antara seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan shalat”
(Diriwayatkan Muslim)[3].
Shalat adalah sebuah kewajiban agamawi yang tidak bisa
ditawar-tawar sebagaimana dikatakan, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan
shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu
berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu
(sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan
waktunya atas orang-orang yang beriman” (Qs 4:103).
Perintah Melaksanakan
Shalat Dalam Quran
Ada banyak ayat dalam Qur’an yang memerintahkan untuk
melaksanakan Shalat. Menurut para ahli agama Islam, ada sekitar 30 perintah
melaksanakan Shalat[4]. Berikut sebagian dari perintah Shalat al:
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat
wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu” (Qs al-Baqarah
2:238)
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah
beserta orang-orang yang ruku” (Qs al-Baqarah 2:43)
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi
dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang
buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (Qs Hud 11:114)
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai
gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu
disaksikan (oleh malaikat)” (Qs al-Isra’ 17:78)
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah
kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat
kamu ke tempat yang terpuji” (Qs al-Isra’ 17:79)
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang
hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”
(Qs Thaha 20:14)
Keutamaan Shalat
Sebagai kewajiban dalam beribadah maka Shalat memiliki
keutamaan dalam ajaran Islam. Beberapa keutamaan yang dimaksudkan adalah sbb:
Mencegah berbuat kejahatan
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab
(Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah
(shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan
Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs al-Ankabut 29:45)
Mendapatkan Pahala
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal
shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi
Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati” (Qs al-Baqarah 2:277)
Menghapus Dosa
“Perumpamaan shalat-shalat lima waktu adalah seperti air
tawar yang melimpah di pintu rumah salah seorang dari kalian dimana ia mandi di
dalamnya lima kali dalam setiap hari, maka bagaimana menurut kalian apakah
masih tersisa sedikit pun kotoran padanya? Para sahabat menjawab, ‘Tidak
tersisa’. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya
shalat lima waktu itu menghilangkasn dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan
kotoran” (Diriwayatkan Muslim)[5].
Tata Cara Shalat
Al Qur’an sendiri tidak memberikan pedoman mendetail perihal
tata cara Shalat sebagaimana dikatakan seorang Muslim, “Tata cara ritual Shalat
lima waktu yang kita kenal sekarang dan merupakan hal yang paling penting wajib
dilakukan penganut agama Islam jika tidak ingin masuk neraka, ternyata tidak
ditemukan dalam Quran”[6]
Tata cara Shalat dalam Islam didasarkan pada petunjuk
perilaku ibadah Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang memberikan
petunjuk dan teladan dalam melaksanakan Shalat. Dalam salah satu Hadits
dikatakan, “Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya ialah takbir dan
penghalalnya ialah salam” (Diriwayatkan Abu Daud dan At Tirmidzi).
Adapun tata cara Shalat berdasarkan catatan Hadits adalah
sbb:
Takbiratul ihram, yaitu setelah berdiri menghadap kiblat,
kemudian mengangkat kedua tangan sampai ibu jari berada pada ujung telinga
bagian bawah, sambil mengucapkan Allahu Akbar. Ditambah membaca doa Iftitah dan
Al Fatihah.
Ruku
I’tidal
Sujud
Duduk diantara dua sujud
Sujud
Duduk Tasyahud
Salam ke kana dan ke kiri[7]
Asal Usul Perintah
Shalat dan Penetapan Waktu Shalat
Tidak ada kejelasan darimana asal usul penetapan lima waktu
Shalat. Setidaknya ada beberapa penjelasan yang tidak sinkron satu sama lainnya
sbb:
[Menurut kami baik al-Qur’an maupun al-Hadits menjelaskan
perintah shalat dengan sangat jelas dan sinkron satu dengan yang lainnya,
kemungkinan penulis artikel ini bukan seorang muslim sehingga tidak memahami
pesan-pesan yang disampaikan Allah Azza wa Jalla di dalam al-Qur’an maupun
sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits shahih yang berkaitan
dengan perintah mendirikan shalat dan tata cara pelaksanaannya - AZ]
Meniru Perilaku Para Nabi Terdahulu
Nabi Adam adalah nabi pertama yang mengajarkan shalat subuh.
Saat itu, beliau baru saja diturunkan dari surga ke dunia oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala karena sudah melanggar larangan Allah. Saat itu, bumi masih gelap gulita. Nabi Adam
merasa sangat ketakutan karena baru sekali itu menginjakkan kakinya di dunia
dan kegelapan yang menyambutnya. Saat Subuh menjelang dan matahari mulai
terbit, Nabi Adam pun melaksanakan shalat dua rakaat sebagai tanda syukur
karena sudah terbebas dari kegelapan malam dan diberikan cahaya matahari
sebagai gantinya.
Nabi Ibrahim adalah nabi yang pertama mengerjakan Shalat
Dzuhur. Beliau melakukan shalat sebanyak empat rakaat setelah beliau mendapat
wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menyembelih puteranya, Nabi Isma’il
dengan seekor domba kurban. Shalat ini didirikan oleh Nabi Ibrahim pada saat
matahari sudah tepat di atas ubun-ubun kepala.
Nabi Yunus adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat Asar.
Saat itu, Nabi Yunus baru saja dimuntahkan oleh ikan paus yang sudah menelannya
selama beberapa waktu lamanya. Berdiam lama di dalam perut ikan paus yang penuh
dengan kegelapan membuat Nabi Yunus teringat dengan segala dosa-dosa yang sudah
dilakukannya. Oleh karena tu, ketika ikan paus memuntahkan dan melemparkannya
ke sebuah pantai yang tandus, beliau langsung mendirikan shalat empat rakaat.
Shalat ini sebagai rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena telah
terbebas dari dalam perut ikan paus dan kegelapan yang sudah menutupi mata dan
hatinya selama ini. Nabi Yunus mendirikan shalat ini ketika waktu sudah
memasuki waktu shalat Asar.
Nabi Isa adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat
Maghrib. Beliau melaksanakan Shalat Maghrib keika Allah Subhanahu wa Ta'ala
menyelamatkannya dari kejahilan dan kebodohan kaumnya sendiri. Shalat itu
didirikan tiga rakaat pada saat matahari sudah terbenam. Nabi Isa melakukan
shalat ini sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala
karena sudah diselamatkan dari kejahilan tersebut.
Nabi Musa adalah nabi pertama yang mengerjakan shalat Isya.
Saat itu Nabi Musa dan isterinya, Shafura, sedang dalam perjalanan menuju tanah
kelahiran Nabi Musa di Mesir setelah sebelumnya tingal bersama Syuaib. Mereka kesulitan mencari jalan keluar yang
aman dari Madyan karena tentara Fir’aun sedang mencarinya di seluruh penjuru
negeri. Sementara itu, Nabi Musa takut
tentara Fir’aun akan menemukannya dan menyerahkannya pada Fir’aun yang zalim.
Kegundahan Nabi Musa akhirnya didengar Allah Subhanahu wa Ta'ala yang langsung
menghilangkan rasa gundah itu dari hati Nabi Musa. Sebagai rasa syukur, Nabi
Musa mendirikan shalat empat rakaat pada saat malam hari.
Pada peristiwa Isra dan Mi’raj. Nabi Muhammad Shallallahu
'Alaihi wa Sallam melakukan perjalanan
menaiki Buraq dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian diterbangkan ke
langit tertinggi yang disebut Sidratul Muntaha oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam peristiwa ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Muhammad
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk menyempurnakan kelima shalat ini dalam lima
waktu yang harus dilaksanakan satu hari satu malam. Peristiwa Isra Mi’raj ini
menjadi tonggak bagi umat Islam karena pada saat itulah kewajiban shalat lima
waktu diwajibkan bagi seluruh umat
Islam[8].
Perintah Yang Diterima Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam Saat Mi’raj
Menurut Hadits Shahih Bukhari 8.1/336 dikisahkan sbb,
“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata,
telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Anas
bin Malik berkata, Abu Dzar menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam bersabda: Saat aku di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang
Malaikat Jibril Alaihis Salam. Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya
dengan menggunakan air zamzam. Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi
hikmah dan iman, lalu dituangnya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Lalu
dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia. Tatkala aku sudah
sampai di langit dunia, Jibril Alaihis Salam berkata kepada Malaikat penjaga
langit, 'Bukalah'. Malaikat penjaga langit berkata, 'Siapa Ini? ' Jibril
menjawab, 'Ini Jibril'. Malaikat penjaga langit bertanya lagi, 'Apakah kamu
bersama orang lain? ' Jibril menjawab, Ya, bersamaku Muhammad Shallallahu
'Alaihi wa Sallam.' Penjaga itu bertanya lagi, 'Apakah dia diutus sebagai
Rasul? ' Jibril menjawab, 'Benar.' Ketika dibuka dan kami sampai di langit
dunia, ketika itu ada seseorang yang sedang duduk, di sebelah kanan orang itu
ada sekelompok manusia begitu juga di sebelah kirinya. Apabila dia melihat
kepada sekelompok orang yang di sebelah kanannya ia tertawa, dan bila melihat ke
kirinya ia menangis. Lalu orang itu berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih
dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril
menjawab, Dialah Adam Alaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan
dan kirinya adalah ruh-ruh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah
kanannya adalah para ahli surga sedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahli
neraka. Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang
ke sebelah kirinya dia menangis.' Kemudian aku dibawa menuju ke langit kedua,
Jibril lalu berkata kepada penjaganya seperti terhadap penjaga langit pertama.
Maka langit pun dibuka'. Anas berkata,
Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa pada tingkatan
langit-langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, 'Isa dan Ibrahim
semoga Allah memberi shalawat-Nya kepada mereka. Beliau tidak menceritakan
kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahwa beliau bertemu
Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam. Anas melanjutkan, Ketika Jibril berjalan
bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun
berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku
bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Idris.' Lalu
aku berjalan melewati Musa, ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih
dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril
menjawab, 'Dialah Musa.' Kemudian aku berjalan melewati 'Isa, dan ia pun
berkata, 'Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.' Aku
bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah 'Isa.'
Kemudian aku melewati Ibrahim dan ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang
shalih dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? '
Jibril menjawab, 'Dialah Ibrahim Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.' Ibnu Syihab
berkata, Ibnu Hazm mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu 'Abbas dan Abu Habbah Al
Anshari keduanya berkata, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Kemudian
aku dimi'rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapat mendengar suara
pena yang menulis. Ibnu Hazm berkata,
Anas bin Malik menyebutkan, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Kemudian Allah 'Azza wa Jalla
mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi
membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, 'Apa
yang Allah perintahkan buat umatmu? ' Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu
dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! '
Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui
Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. Tapi ia berkata,
'Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.' Aku lalu kembali
menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian aku
kembali menemui Musa, ia lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu
tetap tidak akan sanggup.' Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala, Allah lalu
berfirman: 'Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi
perubahan keputusan di sisi-Ku! ' Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali
berkata, 'Kembailah kepada Rabb-Mu! ' Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabb-ku.'
Jibril lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha yang diselimuti
dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu. Kemudian aku
dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari
mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi.”[9]
Malaikat Jibril Mengajari Waktu Shalat
“Malaikat Jibril turun kemudian mengajari Rasullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam waktu-waktu shalat. Malaikat Jibril berkata kepada beliau,
‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan
shalat Dhuhur ketika matahari telah bergeser dari tengah-tengah langit. Pada
waktu Ashar, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa
Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa
Sallam pun mengerjakan shalat Ashar ketika bayangan segala sesuatu persis
seperti aslinya. Pada waktu Maghrib, Malaikat Jibril datang lagi kepada
Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’
Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Maghrib ketika matahari
telah terbenam. Ketika waktu Isya telah tiba, Malaikat Jibril datang lagi
kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan
shalatlah!’, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Isya
ketika sinar merah matahari telah hilang. Ketika fajar telah terbit. Malaikat
Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata,
‘Berdirilah dan shalatlah!’, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun
mengerjakan shalat Shubuh ketika fajar telah menyingsing. Keesokan harinya
Malaikat Jibril pun datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam
dan memerintahkan hal yang sama kepada beliau. Setelah itu Malaikat Jibril
berkata, ‘Waktu shalat ialah diantara kedua waktu tersebut” (Diriwayatkan Ahmad
dan Nasai)[10]
Ibadah Shalat Sebelum Islam
Menurut Al Qur’an para nabi sebelum Islam diwahyukan pada
Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sudah mengenal dan melaksanaka
ibadah Shalat. Agak membingungkan juga, bagaimana mungkin jika Shalat Lima
Waktu diwahyukan pada Muhamad saat Mikraj ke Sidratul Muntaha, padahal ibadah
Shalat sudah dilaksanakan sejak zaman para nabi?
[sebenarnya tidak membingungkan, sewaktu Isra’ Mi’raj Nabi
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menerima perintah shalat lima waktu sekaligus,
sedangkan para Nabi yang mengerjakan sebelumnya hanya melaksanakan shalat pada
waktu-waktu tertentu, seperti Nabi Adam as hanya melaksanakan shalat Shubuh
dst-AZ]
Kita tinggalkan sejenak persoalan di atas dan kita akan
menyimak dalil-dalil Qur’an yang mengatakan bahwa ibadah Shalat sudah dilakukan
sejak nabi-nabi terdahulu seperti Ibrahim, Musa, Isa sbb:
“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan
Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami
jadikan orang-orang yang shaleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami
wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (Qs
al-Anbiya 21:72-73)
“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan
diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang
hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”
(Qs Thaha 20:13-14)
“Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia
memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia
menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku
hidup” (Qs Maryam 19:30-31)
Jejak Tefilah Yudaisme dan Liturgia Horarum Kristen
Ketika Khalifah Umar bin Khatab, memasuki Yerusalem pada
tahun 636, dia disambut oleh Sophronius I (634-638), Patriarkh dan Uskup Agung
Gereja Orthodox Yerusalem dan diantarkan ke tempat ibadah Kristen yang paling
suci, Gereja Makam Suci (Holy Sepulchere Church). Ketika ia hendak memasuki
tempat suci itu terdengar adzan Shalat Dzuhur. Uskup Sophronius adalah seorang
tuan rumah yang penuh hormat, maka ia bertanya kepada Sang Khalifah: “Tidakkah
tuan akan menjalankan Shalat? Akan saya ambilkan sehelai sajadah untuk Anda dan
Anda akan dapat menjalankan Shalat di sini”. Sang Khalifah berpikir sejenak dan
berkata: “Terima kasih, tetapi maaf. Jika saya menjalankan Shalat di tempat
suci Anda, para ummat saya akan menirunya dan merebut tempat ini. Saya akan
pergi ke tempat yang agak terpisah”. Maka ia pun pergi menjauh dan menjalankan
Shalatnya di tempat yang sekarang merupakan sebuah masjid di dekat situ. Dari
kisah nyata dalam sejarah ini tahulah kita bahwa Gereja Kristen Perdana sejak
awal (sebelum kedatangan pasukan dan kaum Muslim) sudah melakukan Shalat[11].
Jika Anda seorang Kristen yang dibesarkan dalam tradisi
gereja-gereja Reformasi dari Barat baik Protestan, Baptis atau aliran-aliran
Pentakosta serta Kharismatik, mungkin terasa asing mendengar istilah Shalat
dalam Kekristenan.
Namun itulah kenyataan historis bahwa jauh sebelum Islam
menjadi agama yang memiliki pengaruh di dunia dan Indonesia khususnya dan
memiliki ritual ibadah Shalat, Kekristenan Timur yaitu Gereja Orthodox telah
mengenal ibadah harian yang disebut Ashabus Shalawat.
Dalam Gereja Orthodox ada dua bentuk Sembahyang Harian yang
mengikuti aturan tertentu ini, yaitu yang mengikuti cara Nabi Daniel : Tiga
Kali sehari (Dan. 6:11-12, Mzm. 55:18), atau juga mengikuti pola yang dikatakan
oleh Nabi Daud: ”Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau…” (Mzm.
119:164). Sembahyang tiga kali itu terdiri dari: Pagi, Tengah-Hari, dan Sore
Hari (Mazmur 55:18). Waktu-waktu Sembahyang itu sendiri sudah dimulai sejak
zaman Nabi Musa. Tuhan memerintahkan agar Imam Harun mempersembahkan korban
binatang dan korban dupa pada “Waktu Pagi” dan “Waktu Senja” (Kel. 29:38-39,
30:7-8).
Kata Shalat itu sendiri dalam bahasa Arab, serumpun dengan
kata Tselota dalam bahasa Arami (Syria) yaitu bahasa yang digunakan oleh Yesus
sewaktu hidup di dunia. Dan bagi ummat Kristen Orthodox Arab yaitu ummat
Kristen Orthodox yang berada di Mesir, Palestina, Yordania, Libanon dan daerah
Timur-Tengah lainnya menggunakan kataTselota tadi dalam bentuk bahasa Arab
Shalat, sehingga doa “Bapa kami” oleh ummat Kristen Orthodox Arab disebut
sebagai Shalattul Rabbaniyah.
Sebagaimana dikatakan sebelumnya, Gereja Orthodox, seperti
Syria dan Mesir, mengenal liturgi doa harian yang disebut, Ashabush Sholawat,
[12] yang terdiri dari :
Shalat Sa’atul Awwal (Shalat jam pertama, jam 06.00)
Shalat Sa’atuts Tsalits, (Shalat jam ketiga, jam 09.0)
Shalat Sa’atus Sadis, (Shalat jam keenam, jam 12.00)
Shalat Sa’atut Tis’ah, (Shalat jam kesembilan, jam 15.00)
Shalat Ghurub, (Shalat terbenamnya matahari, jam 18.00)
Shalat Naum (Shalat malam, jam 19.00)
Shalat Satar (Shalat tutup malam, jam 24.00)
Sementara Gereja
Katholik di Abad Pertengahan mengenal
yang disebut De Liturgia Horarum [13] yaitu :
Laudes (Doa pagi)
Hora Tertia (Doa jam ketiga)
Hora Sexta (Doa jam keenam)
Hora Nona (Doa jam kesembilan)
Verper (Doa senja)
Vigil (Doa malam)
Copletorium (Doa penutup)
Istilah Liturgia Horarum
dalam bahasa Inggris disebut “Liturgy of the Hours” (Liturgi Waktu). Nama ini
mulai dipakai untuk pertama kali pada tahun 1959 dan menjadi populer selama
Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Liturgi. Nama ini memperlihatkan
bahwa ibadat ini dijalankan sesuai dengan jam atau waktu tertentu setiap hari
yang pada dasarnya mempunyai arti simbolis sepeti terungkap dalam doa-doa yang
dipakai dalam ibadat ini[14].
Disebut Liturgi karena ibadat ini sesungguhnya adalah doa
atau kegiatan rohani seluruh umat sebagai Gereja dalam arti sebenarnya. Istilah
harian (jam harian) menyatakan bahwa ibadat ini menguduskan waktu, jam siang
dan malam. Sebenarnya dalam ibadat ini umat mengalami Tuhan yang tidak kenal
waktu, yang abadi dan kudus. Oleh pengalaman berahmat itu manusia dikuduskan
dalam waktu, hidup dan karyanya sehari-hari diberkati dan dikuduskan oleh
Tuhan, saat atau sejarah hidupnya menjadi saat yang penuh rahmat dan
menyelamatkan[15].
Dalam perspektif Roma Katholik yang mengacu pada istilah
Latin, ada beberapa istilah yang dipergunakan selain Liturgia Horarum yaitu
Ofisi Ilahi (Oficium: Kegiatan, Kewajiban), Brevir (Breviarum: Ringkasan,
Singkatan), Opus Dei (Karya Tuhan), Pensum Servitutis (Takaran Pelayanan),
Horae Canonicae (Jam-jam wajib), Horologion (Jam-jam doa)[16].
Lebih jauh makna dari Ashabus Shalawat sbb:
Shalat Jam Pertama (Sembahyang Singsing Fajar, Orthros,
Matinus, Laudes) atau Shalatus Sa’atul Awwal (Shalatus Shakhar), yaitu ibadah
pagi sebanding dengan “Shalat Subuh” dalam agama Islam (jam 5-6 pagi). Data ini
diambil dari Kitab Keluaran 29:38-41 berkenaan dengan ibadah korban pagi dan
petang, yang dalam Gereja dihayati sebagai peringatan lahirnya Sang Sabda
Menjelma sebagai Sang Terang Dunia (Yoh.8:12).
Shalat Jam Ketiga (Sembahyang Jam Ketiga, Tercia) atau
Shalatus Sa’atus Tsalitsu, Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dhuha” dalam
agama Islam meskipun bukan Shalat wajib (jam 9-11 pagi). Ini terungkap dalam
Kitab Kisah Para Rasul 2:1,15 yang mempunyai pengertian penyaliban Yesus dan
juga turunnya Sang Roh Kudus (Mrk.15:25; Kis.2:1-12,15). Itu sebabnya dengan
Shalat ini, kita teringatkan agar mempunyai tekad dan kerinduan untuk
menyalibkan dan memerangi hawa nafsu sendiri, agar rahmat Allah dalam Roh Kudus
melimpah dalam hidup.
Shalat Jam Keenam (“Sembahyang Jam Keenam”, “Sexta”) atau
Shalatus Sa’atus Sadis. Ini nyata terlihat dalam Kisah Para Rasul 10:9 dan
Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dzuhur” dalam agama Islam (jam 12-1 tengah
hari), yang mempunyai makna sebagai peringatan akan penderitaan Kristus di atas
salib (Luk.23:44-45), dan pencuri yang disalib bersama-sama Kristus bertobat.
Berpijak dari makna ini, kitapun diharapkan seperti pencuri selalu ingat akan
hidup pertobatan dan selalu memohon rahmat Ilahi agar mampu mencapai tujuan
hidup yaitu masuk dalam kerajaan Tuhan.
Shalat Jam Kesembilan (“Sembahyang Jam Kesembilan”, “Nona”)
atau Shalatus Sa’atus Tis’ah (Kis.3:1) sebanding dengan “Shalat Asyar” dalam
agama Islam (jam 3-4 sore). Shalat ini dilakukan untuk mengingatkan saat
Kristus menghembuskan nafas terakhirNya di atas salib (Mrk.15:34-37), sekaligus
untuk mengingatkan bahwa kematian Kristus di atas salib adalah untuk menebus
dosa-dosa, agar manusia dapat melihat dan merasakan rahmat Ilahi.
Shalat Senja (“Sembahyang Senja”, “Esperinos”, “Vesperus”)
atau Shalatul Ghurub. Shalat ini sebanding dengan “Shalat Maghrib” dalam agama
Islam (kira-kira jam 6 sore), sama seperti Shalat jam pertama, Shalat ini
dilatar belakangi oleh ibadah korban pagi dan petang yang terdapat dalam Kitab
Keluaran 29:38-41. Makna dan tujuan Shalat ini adalah untuk memperingati ketika
Kristus berada dalam kubur dan bangkit pada esok harinya, seperti halnya
matahari tenggelam dalam kegelapan untuk terbit pada esok harinya.
Shalat Purna Bujana (“Shalat Tidur”, “Completorium”) atau
Shalatul Naum (Mzm.4:9). Shalat ini sebanding dengan “Shalat Isya” dalam agama
Islam (jam 8-12 malam), yang mempunyai makna untuk mengingatkan bahwa pada saat
malam seperti inilah Kristus tergeletak dalam kuburan dan tidur yang akan
dilakukan itu adalah gambaran dari kematian itu.
Shalat Tengah Malam (“Sembahyang Ratri Madya”, “Prima”) atau
Shalatul Lail atau “Shalat Satar” (Kis.16:25). Shalat ini sebanding dengan
“Shalat Tahajjud” dalam agama Islam. Shalat tengah malam ini mengandung
pengertian bahwa Kristus akan datang seperti pencuri di tengah malam
(Mat.24:42; Luk.21:26; Why.16:15), hingga demikian hal itu mengingatkan orang
percaya untuk tetap selalu berjaga-jaga dalam menghidupi imannya[17].
Rashid Rahman mengatakan mengenai latar belakang ibadah
harian dalam gereja sbb, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi
oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang
tersebut dapat berupa kontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah
Yudaisme”[18]. Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah
tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian
mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian”[19]
Waktu doa harian dalam Yudaisme disebut dengan Tefilah yang
terdiri dari Shakharit (pagi) Minha (siang) dan Maariv (malam). Dalam tradisi
Yudaisme, waktu-waktu doa dinamakan
zemanim. Pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadahan di Bait Suci (Kel
29:38-42; Bil 28:1-8). Nabi-nabi dan raja-raja di Israel kuno melaksanakan
tefilah harian sbb :
Daud (Mzm 55:17)
Daniel (Dan 6:11)
Ezra (Ezr 9:5)
Yesus Sang Mesias (Luk 6:12)
Petrus dan Yohanes (Kis 3:1)
Petrus dan Kornelius (Kis 10:3,9)[20]
Para nabi dan rasul
pun melaksanakan ibadah dengan berbagai sikap atau postur tubuh yang tertentu
al :
Berdiri (Ul 29:10, , Mzm 76:8)
Bersujud (Mzm 96:9, Mat 26:39)
Berlutut (Mzm 95:6, Kis 20:36)
Mengangkat kedua tangan (Rat 3:41; Mzm 134:2)[21]
Shalat Dalam Islam:
Pelestarian Atau Peniruan?
[Bukan Peniruan, tapi melaksanakan perintah Allah Azza wa
Jalla-AZ.]
Nampaknya terlalu sarkastis dan over simplicity (terlalu
menyederhanakan) apabila beranggapan bahwa ritual Shalat dalam Islam sebagai
bentuk peniruan dari ritual Ashabus Sholawat atau Liturgia Horarum dan Tefilah
dalam Yudaisme. Saya lebih melihat bahwa eksistensi ritual Shalat dalam Islam
sebagai bentuk pelestarian dari tradisi Semitik dalam pemeliharaan ibadah
harian yang mulai hilang dalam gereja-gereja Barat khususnya aliran Protestan.
Terlepas dari persoalan bahwa Kristen dan Islam tidak
menyembah Tuhan yang sama dan memiliki konsep dan pemahaman yang berbeda
mengenai fungsi dan kedudukan ibadah harian namun keberadaan ritual Shalat
dalam Islam justru mengingatkan Gereja dan Kekristenan bahwa Gereja dan
Kekristenan perdana lahir dan tumbuh dari rahim Yudaisme. Gereja dan
Kekristenan lahir dan dibesarkan di dunia Timur yang sarat dengan kekayaan
spiritualitas dan keshalehan.
Yudaisme sebagai ibu kandung Kekristenan perdana telah
mewariskan ibadah harian yang disebut Tefilah dan yang kemudian dilestarikan
dalam kepercayaan baru kepada Yesus Sang Mesias sehingga melahirkan pola ibadah
harian Tselota atau Ashabus Shalawat atau Liturgia Horarum[22]. Akibat Gereja
dan Kekristenan tercerabut dari akar Semitik Yudaiknya maka banyak aspek
penting dalam peribadatan menjadi hilang dan terlupakan dalam Kekristenan
khususnya aliran Reformasi. Dan salah satu aspek yang hilang itu adalah ibadah
harian.
Rabbi Moshe Maimonides pernah mengatakan bahwa kehadiran
Islam adalah untuk meratakan jalan bagi Mesias yang akan datang karena
eksistensi Torah diaktualisasikan dalam format yang baru dalam Islam. Namun
saya lebih melihat bahwa kehadiran Islam dengan ritual Shalatnya, menjadi alat
Tuhan untuk mengingatkan Gereja dan Kekristenan (khususnya Barat) untuk
menelusuri akar keimanannya yang berasal dari tradisi Timur yaitu
Semitik-Yudaik yang lebih dahulu memelihara ibadah harian.
Pernyataan bahwa Islam menjadi “alat Tuhan” bukan berarti
saya menyetujui doktrin-doktrin Islam khususnya kenabian Muhamad sebagai
kelanjutan agama Yahudi dan Kristen dan pelucutan aspek Keilahian Yesus menjadi
sekedar nabi serta doktrin-doktrin lain. Pernyataan ini tidak lebih sebagai
bentuk refleksi dan introspeksi terhadap beberapa aspek yang hilang dari
Kekristenan dan seharusnya ada dan dilakukan oleh Kekristenan.
Jika Tuhan YHWH bisa membuka mulut keledai Bileam dan
berbicara padanya sehingga mencegah Bileam mengutuki Israel (Bil 22:28). Dan
jika Tuhan YHWH bisa memakai Raja kafir Persia bernama Koresh untuk mengalahkan
bangsa-bangsa yang menjajah Israel (Yes 45:1), mengapa pula Tuhan tidak bisa
memakai orang lain atau komunitas lain untuk menjadi alat-Nya?
Kita kerap memperlakukan bidat-bidat dalam Gereja sebagai
penyakit menular yang membahayakan namun tidak mau introspeksi dan berefleksi
bahwa kemunculan bidat-bidat bisa jadi sebuah peringatan bahwa Gereja telah
kehilangan kasih yang mula-mula atau mengabaikan ajaran dasar Yesus dan menjauh
dari jalan para rasul Mesias, seperti pernah dikatakan Alm DR. J. Verkuyl dalam
bukunya Gereja dan Bidat-bidat, bahwasanya keberadaan bidat adalah “hutang
Gereja”.
Panggilan Bagi Gereja
dan Kekristenan Untuk Kembali Ke Akar Imannya
Keberadaan Gereja Orthodox di Indonesia (masuk ke Indonesia
sekitar tahun 90-an) dan Messianic Judaism (masuk ke Indonesia sekitar awal
tahun 2000-an) merupakan alat Tuhan yang sesungguhnya agar Gereja dan
Kekristenan menyadari akar dan tradisi iman yang berasal dari budaya Semitik.
Sejak awal kuliah Teologi, saya tidak pernah mendengar apa
dan bagaimana perihal Gereja Ortodox. Yang saya tahu hanyalah Katolik dan
aliran Reformasi serta pecahan-pecahannya. Literatur Teologi yang saya baca pun
tidak pernah memberitahukan keberadaan Ortodox. Kalaupun diinformasikan hanya
sambil lalu saja. Informasi mengenai akar Kekristenan yang berasal dari
Yudaisme pun sangat minim untuk saya dapatkan.
Keberadaan Gereja Orthodox menyadarkan Gereja dan
Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa Gereja Perdana berhasil
memelihara rantai dan suksesi rasuliah hingga kini. Bahkan berbagai ritual
ibadah al: ibadah harian masih tetap terpelihara hingga hari ini sementara
Gereja beraliran Reformasi lebih menekankan doa-doa spontan.
Keberadaan Messianic Judaism menyadarkan Gereja dan
Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa umat Yahudi bukan umat
yang dibuang dan dilupakan Tuhan serta telah digantikan oleh Gereja. Banyak
orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus sebagai Mesias dan
melestarikan peribadahan yang berakar pada Yudaisme sebagai Mesias dan
rasul-rasulnya melakukan. Dan salah satunya adalah ibadah harian yang disebut
Tefilah. Dan mereka tidak menyebut diri mereka Kristen namun Messianic Jewish
atau Messianic Judaism.
Penutup
Kiranya kajian singkat yang menelusuri asal usul ritual
Shalat dalam Islam yang dapat dilacak sampai Yudaisme dan Kekristenan awal,
dapat membuka wawasan bersama baik Islam maupun Kristen mengenai akar tradisi
imannya yang berasal dari Timur yaitu tradisi Semitik. Bukan hanya berhenti
dalam pembukaan wawasan namun mendorong kedua belah pihak saling menghargai dan
menghormati sebagai agama-agama yang datang dari budaya Semitik.
Tambahan dari Akhirzaman.info [AZ]: Dengan penjelasan di
atas, jelaslah bahwa baik agama Yahudi dan agama Nashrani, keduanya merupakan
agama samawi yang ajaran-ajarannya kemudian disempurnakan Allah Azza wa Jalla
di dalam agama Islam sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut: “Pada hari ini
telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS al-Ma’idah
5:3]. Oleh karena itu, Tuhan yang
disembah oleh ketiga agama samawi tersebut adalah sama, yaitu Allah Azza wa
Jalla, tidak sebagaimana dijelaskan dalam tulisan di atas.
End Notes:
Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Ensiklopedi Muslim – Minhajul
Muslim, Jakarta: Darul Falah 2003, hal 298
Ibid., 299
Ibid.,
Dalil-Dalil Al Qur’an Tentang Shalat,
http://usupress.usu.ac.id/files/Dalili
dalil%20Al%20Qur'an%20tentang%20Shalat_Final_bab%201.pdf
Ibid., hal 300
http://allah-semata.org/forum/index.php?topic=531.0
Drs. Miftah Faridl, Pokok-Pokok Ajaran Islam, Bandung:
Pustaka, 1995, hal 95-96
Asal Usul Shalat Lima Waktu,
http://bahesti.wordpress.com/2010/12/07/asal-usul-shalat-lima-waktu/ Band. Asal
Usul Shalat, http://agama.kompasiana.com/2010/05/24/asal-usul-Shalat/
http://www.indoquran.com/id/hadithbukhariterjemahan/surah/8.html
Op.Cit., Ensiklopedi Muslim – Minhajul Muslim,, hal 302-303
Presbyter Rm.Kirill J.S.L, Shalat dalam Gereja Mula-mula
(Orthodox), http://www.facebook.com/note.php?note_id=407572576908
Bambang Noorsena, Sekilas Soal Shalat Tujuh Waktu Dalam
Gereja Orthodox, dalam PENSYL, No 29/III/1996
Syeikh Efraim Bar Nabba Bambang Noorsena, Selayang Pandang
Tentang Shalat Tujuh Waktu Dalam Kanisah Orthodox Syria, Surabaya, 19 Juni
1998_________________
Bernardus Boli Ujan, SVD., Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa
Henti Semua Anggota Gereja, Maumere: Ledalero, 2003, hal 10
Ibid 10
Ibid., hal 11-12
Shalat Tujuh Waktu, http://orthodoxkristen.multiply.com/journal/item/4
Ibadah Harian Zaman Patristik, Bintang Fajar, 2000, hal 5
Ibid., hal 36
Teguh Hindarto, Tefilah: Ibadah Harian Kekristenan,
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/tefilah.html
Ibid.,
Teguh Hindarto, Apakah Kekristenan Berbeda Dengan Yudaisme?
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-kekristenan-berbeda-dengan.html
Sumber: Messianic-Indonesia
Shalat dalam Islam: Jejak Ibadah Harian Yudaisme dan
Kekristenan Awal
Pendahuluan
Islam mengenal Rukun Iman yang terdiri dari Sahadat, Shalat,
Shaum, Zakat, Jihad sebagaimana dikatakan, “Islam dibangun di atas lima:
Kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa
Muhamad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, haji ke
Baitullah dan puasa di bulan Ramadhan “(Diriwayatkan Al Bukhari)[1].
Shalat, dalam Islam menempati kedudukan yang sangat penting
yaitu sebagai tiangnya agama sebagaimana dikatakan dalam sebuah Hadits, “Pokok
segala sesuatu ialah Islam, tiangnya ialah shalat dan puncaknya ialah jihad di
jalan Allah” (Diriwayatkan Muslim)[2]. Hadits yang lain mengatakan, “Bahkan
pembeda antara orang kafir dan Muslim adalah Shalat sebagaimana dikatakan,
“Jarak antara seseorang dengan kekafiran ialah meninggalkan shalat”
(Diriwayatkan Muslim)[3].
Shalat adalah sebuah kewajiban agamawi yang tidak bisa
ditawar-tawar sebagaimana dikatakan, “Maka apabila kamu telah menyelesaikan
shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu
berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu
(sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan
waktunya atas orang-orang yang beriman” (Qs 4:103).
Perintah Melaksanakan
Shalat Dalam Quran
Ada banyak ayat dalam Qur’an yang memerintahkan untuk
melaksanakan Shalat. Menurut para ahli agama Islam, ada sekitar 30 perintah
melaksanakan Shalat[4]. Berikut sebagian dari perintah Shalat al:
“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat
wusthaa. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu” (Qs al-Baqarah
2:238)
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah
beserta orang-orang yang ruku” (Qs al-Baqarah 2:43)
“Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi
dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya
perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang
buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” (Qs Hud 11:114)
“Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai
gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu
disaksikan (oleh malaikat)” (Qs al-Isra’ 17:78)
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah
kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat
kamu ke tempat yang terpuji” (Qs al-Isra’ 17:79)
“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang
hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”
(Qs Thaha 20:14)
Keutamaan Shalat
Sebagai kewajiban dalam beribadah maka Shalat memiliki
keutamaan dalam ajaran Islam. Beberapa keutamaan yang dimaksudkan adalah sbb:
Mencegah berbuat kejahatan
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab
(Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah
(shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan
Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Qs al-Ankabut 29:45)
Mendapatkan Pahala
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal
shaleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi
Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka
bersedih hati” (Qs al-Baqarah 2:277)
Menghapus Dosa
“Perumpamaan shalat-shalat lima waktu adalah seperti air
tawar yang melimpah di pintu rumah salah seorang dari kalian dimana ia mandi di
dalamnya lima kali dalam setiap hari, maka bagaimana menurut kalian apakah
masih tersisa sedikit pun kotoran padanya? Para sahabat menjawab, ‘Tidak
tersisa’. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sesungguhnya
shalat lima waktu itu menghilangkasn dosa-dosa sebagaimana air menghilangkan
kotoran” (Diriwayatkan Muslim)[5].
Tata Cara Shalat
Al Qur’an sendiri tidak memberikan pedoman mendetail perihal
tata cara Shalat sebagaimana dikatakan seorang Muslim, “Tata cara ritual Shalat
lima waktu yang kita kenal sekarang dan merupakan hal yang paling penting wajib
dilakukan penganut agama Islam jika tidak ingin masuk neraka, ternyata tidak
ditemukan dalam Quran”[6]
Tata cara Shalat dalam Islam didasarkan pada petunjuk
perilaku ibadah Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yang memberikan
petunjuk dan teladan dalam melaksanakan Shalat. Dalam salah satu Hadits
dikatakan, “Kunci shalat adalah bersuci, pengharamannya ialah takbir dan
penghalalnya ialah salam” (Diriwayatkan Abu Daud dan At Tirmidzi).
Adapun tata cara Shalat berdasarkan catatan Hadits adalah
sbb:
Takbiratul ihram, yaitu setelah berdiri menghadap kiblat,
kemudian mengangkat kedua tangan sampai ibu jari berada pada ujung telinga
bagian bawah, sambil mengucapkan Allahu Akbar. Ditambah membaca doa Iftitah dan
Al Fatihah.
Ruku
I’tidal
Sujud
Duduk diantara dua sujud
Sujud
Duduk Tasyahud
Salam ke kana dan ke kiri[7]
Asal Usul Perintah
Shalat dan Penetapan Waktu Shalat
Tidak ada kejelasan darimana asal usul penetapan lima waktu
Shalat. Setidaknya ada beberapa penjelasan yang tidak sinkron satu sama lainnya
sbb:
[Menurut kami baik al-Qur’an maupun al-Hadits menjelaskan
perintah shalat dengan sangat jelas dan sinkron satu dengan yang lainnya,
kemungkinan penulis artikel ini bukan seorang muslim sehingga tidak memahami
pesan-pesan yang disampaikan Allah Azza wa Jalla di dalam al-Qur’an maupun
sunnah Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dalam hadits-hadits shahih yang berkaitan
dengan perintah mendirikan shalat dan tata cara pelaksanaannya - AZ]
Meniru Perilaku Para Nabi Terdahulu
Nabi Adam adalah nabi pertama yang mengajarkan shalat subuh.
Saat itu, beliau baru saja diturunkan dari surga ke dunia oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala karena sudah melanggar larangan Allah. Saat itu, bumi masih gelap gulita. Nabi Adam
merasa sangat ketakutan karena baru sekali itu menginjakkan kakinya di dunia
dan kegelapan yang menyambutnya. Saat Subuh menjelang dan matahari mulai
terbit, Nabi Adam pun melaksanakan shalat dua rakaat sebagai tanda syukur
karena sudah terbebas dari kegelapan malam dan diberikan cahaya matahari
sebagai gantinya.
Nabi Ibrahim adalah nabi yang pertama mengerjakan Shalat
Dzuhur. Beliau melakukan shalat sebanyak empat rakaat setelah beliau mendapat
wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta'ala untuk menyembelih puteranya, Nabi Isma’il
dengan seekor domba kurban. Shalat ini didirikan oleh Nabi Ibrahim pada saat
matahari sudah tepat di atas ubun-ubun kepala.
Nabi Yunus adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat Asar.
Saat itu, Nabi Yunus baru saja dimuntahkan oleh ikan paus yang sudah menelannya
selama beberapa waktu lamanya. Berdiam lama di dalam perut ikan paus yang penuh
dengan kegelapan membuat Nabi Yunus teringat dengan segala dosa-dosa yang sudah
dilakukannya. Oleh karena tu, ketika ikan paus memuntahkan dan melemparkannya
ke sebuah pantai yang tandus, beliau langsung mendirikan shalat empat rakaat.
Shalat ini sebagai rasa syukurnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala karena telah
terbebas dari dalam perut ikan paus dan kegelapan yang sudah menutupi mata dan
hatinya selama ini. Nabi Yunus mendirikan shalat ini ketika waktu sudah
memasuki waktu shalat Asar.
Nabi Isa adalah nabi pertama yang mengerjakan Shalat
Maghrib. Beliau melaksanakan Shalat Maghrib keika Allah Subhanahu wa Ta'ala
menyelamatkannya dari kejahilan dan kebodohan kaumnya sendiri. Shalat itu
didirikan tiga rakaat pada saat matahari sudah terbenam. Nabi Isa melakukan
shalat ini sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Allah Subhanahu wa Ta'ala
karena sudah diselamatkan dari kejahilan tersebut.
Nabi Musa adalah nabi pertama yang mengerjakan shalat Isya.
Saat itu Nabi Musa dan isterinya, Shafura, sedang dalam perjalanan menuju tanah
kelahiran Nabi Musa di Mesir setelah sebelumnya tingal bersama Syuaib. Mereka kesulitan mencari jalan keluar yang
aman dari Madyan karena tentara Fir’aun sedang mencarinya di seluruh penjuru
negeri. Sementara itu, Nabi Musa takut
tentara Fir’aun akan menemukannya dan menyerahkannya pada Fir’aun yang zalim.
Kegundahan Nabi Musa akhirnya didengar Allah Subhanahu wa Ta'ala yang langsung
menghilangkan rasa gundah itu dari hati Nabi Musa. Sebagai rasa syukur, Nabi
Musa mendirikan shalat empat rakaat pada saat malam hari.
Pada peristiwa Isra dan Mi’raj. Nabi Muhammad Shallallahu
'Alaihi wa Sallam melakukan perjalanan
menaiki Buraq dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa kemudian diterbangkan ke
langit tertinggi yang disebut Sidratul Muntaha oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Dalam peristiwa ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala memerintahkan Nabi Muhammad
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam untuk menyempurnakan kelima shalat ini dalam lima
waktu yang harus dilaksanakan satu hari satu malam. Peristiwa Isra Mi’raj ini
menjadi tonggak bagi umat Islam karena pada saat itulah kewajiban shalat lima
waktu diwajibkan bagi seluruh umat
Islam[8].
Perintah Yang Diterima Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa
Sallam Saat Mi’raj
Menurut Hadits Shahih Bukhari 8.1/336 dikisahkan sbb,
“Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata,
telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Anas
bin Malik berkata, Abu Dzar menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
wa Sallam bersabda: Saat aku di Makkah atap rumahku terbuka, tiba-tiba datang
Malaikat Jibril Alaihis Salam. Lalu dia membelah dadaku kemudian mencucinya
dengan menggunakan air zamzam. Dibawanya pula bejana terbuat dari emas berisi
hikmah dan iman, lalu dituangnya ke dalam dadaku dan menutupnya kembali. Lalu
dia memegang tanganku dan membawaku menuju langit dunia. Tatkala aku sudah
sampai di langit dunia, Jibril Alaihis Salam berkata kepada Malaikat penjaga
langit, 'Bukalah'. Malaikat penjaga langit berkata, 'Siapa Ini? ' Jibril
menjawab, 'Ini Jibril'. Malaikat penjaga langit bertanya lagi, 'Apakah kamu
bersama orang lain? ' Jibril menjawab, Ya, bersamaku Muhammad Shallallahu
'Alaihi wa Sallam.' Penjaga itu bertanya lagi, 'Apakah dia diutus sebagai
Rasul? ' Jibril menjawab, 'Benar.' Ketika dibuka dan kami sampai di langit
dunia, ketika itu ada seseorang yang sedang duduk, di sebelah kanan orang itu
ada sekelompok manusia begitu juga di sebelah kirinya. Apabila dia melihat
kepada sekelompok orang yang di sebelah kanannya ia tertawa, dan bila melihat ke
kirinya ia menangis. Lalu orang itu berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih
dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril
menjawab, Dialah Adam Alaihis Salam, dan orang-orang yang ada di sebelah kanan
dan kirinya adalah ruh-ruh anak keturunannya. Mereka yang ada di sebelah
kanannya adalah para ahli surga sedangkan yang di sebelah kirinya adalah ahli
neraka. Jika dia memandang ke sebelah kanannya dia tertawa dan bila memandang
ke sebelah kirinya dia menangis.' Kemudian aku dibawa menuju ke langit kedua,
Jibril lalu berkata kepada penjaganya seperti terhadap penjaga langit pertama.
Maka langit pun dibuka'. Anas berkata,
Kemudian Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menyebutkan bahwa pada tingkatan
langit-langit itu beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, 'Isa dan Ibrahim
semoga Allah memberi shalawat-Nya kepada mereka. Beliau tidak menceritakan
kepadaku keberadaan mereka di langit tersebut, kecuali bahwa beliau bertemu
Adam di langit dunia dan Ibrahim di langit keenam. Anas melanjutkan, Ketika Jibril berjalan
bersama Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun
berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku
bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Idris.' Lalu
aku berjalan melewati Musa, ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih
dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril
menjawab, 'Dialah Musa.' Kemudian aku berjalan melewati 'Isa, dan ia pun
berkata, 'Selamat datang saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.' Aku
bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah 'Isa.'
Kemudian aku melewati Ibrahim dan ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang
shalih dan anak yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? '
Jibril menjawab, 'Dialah Ibrahim Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.' Ibnu Syihab
berkata, Ibnu Hazm mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu 'Abbas dan Abu Habbah Al
Anshari keduanya berkata, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Kemudian
aku dimi'rajkan hingga sampai ke suatu tempat yang aku dapat mendengar suara
pena yang menulis. Ibnu Hazm berkata,
Anas bin Malik menyebutkan, Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: Kemudian Allah 'Azza wa Jalla
mewajibkan kepada ummatku shalat sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi
membawa perintah itu hingga aku berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, 'Apa
yang Allah perintahkan buat umatmu? ' Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu
dia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! '
Maka aku kembali dan Allah mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui
Musa dan aku katakan bahwa Allah telah mengurangi setengahnya. Tapi ia berkata,
'Kembalilah kepada Rabbmu karena umatmu tidak akan sanggup.' Aku lalu kembali
menemui Allah dan Allah kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian aku
kembali menemui Musa, ia lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu
tetap tidak akan sanggup.' Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala, Allah lalu
berfirman: 'Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi
perubahan keputusan di sisi-Ku! ' Maka aku kembali menemui Musa dan ia kembali
berkata, 'Kembailah kepada Rabb-Mu! ' Aku katakan, 'Aku malu kepada Rabb-ku.'
Jibril lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha yang diselimuti
dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu. Kemudian aku
dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat dari
mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi.”[9]
Malaikat Jibril Mengajari Waktu Shalat
“Malaikat Jibril turun kemudian mengajari Rasullah
Shallallahu Alaihi wa Sallam waktu-waktu shalat. Malaikat Jibril berkata kepada beliau,
‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan
shalat Dhuhur ketika matahari telah bergeser dari tengah-tengah langit. Pada
waktu Ashar, Malaikat Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa
Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’ Rasulullah Shallalahu Alaihi wa
Sallam pun mengerjakan shalat Ashar ketika bayangan segala sesuatu persis
seperti aslinya. Pada waktu Maghrib, Malaikat Jibril datang lagi kepada
Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan shalatlah!’
Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Maghrib ketika matahari
telah terbenam. Ketika waktu Isya telah tiba, Malaikat Jibril datang lagi
kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata, ‘Berdirilah dan
shalatlah!’, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun mengerjakan shalat Isya
ketika sinar merah matahari telah hilang. Ketika fajar telah terbit. Malaikat
Jibril datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam dan berkata,
‘Berdirilah dan shalatlah!’, Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam pun
mengerjakan shalat Shubuh ketika fajar telah menyingsing. Keesokan harinya
Malaikat Jibril pun datang lagi kepada Rasulullah Shallalahu Alaihi wa Sallam
dan memerintahkan hal yang sama kepada beliau. Setelah itu Malaikat Jibril
berkata, ‘Waktu shalat ialah diantara kedua waktu tersebut” (Diriwayatkan Ahmad
dan Nasai)[10]
Ibadah Shalat Sebelum Islam
Menurut Al Qur’an para nabi sebelum Islam diwahyukan pada
Nabi Muhamad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam, sudah mengenal dan melaksanaka
ibadah Shalat. Agak membingungkan juga, bagaimana mungkin jika Shalat Lima
Waktu diwahyukan pada Muhamad saat Mikraj ke Sidratul Muntaha, padahal ibadah
Shalat sudah dilaksanakan sejak zaman para nabi?
[sebenarnya tidak membingungkan, sewaktu Isra’ Mi’raj Nabi
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam menerima perintah shalat lima waktu sekaligus,
sedangkan para Nabi yang mengerjakan sebelumnya hanya melaksanakan shalat pada
waktu-waktu tertentu, seperti Nabi Adam as hanya melaksanakan shalat Shubuh
dst-AZ]
Kita tinggalkan sejenak persoalan di atas dan kita akan
menyimak dalil-dalil Qur’an yang mengatakan bahwa ibadah Shalat sudah dilakukan
sejak nabi-nabi terdahulu seperti Ibrahim, Musa, Isa sbb:
“Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan
Ya'qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami
jadikan orang-orang yang shaleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami
wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang,
menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah” (Qs
al-Anbiya 21:72-73)
“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan
diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang
hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”
(Qs Thaha 20:13-14)
“Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia
memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi, dan Dia
menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia
memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku
hidup” (Qs Maryam 19:30-31)
Jejak Tefilah Yudaisme dan Liturgia Horarum Kristen
Ketika Khalifah Umar bin Khatab, memasuki Yerusalem pada
tahun 636, dia disambut oleh Sophronius I (634-638), Patriarkh dan Uskup Agung
Gereja Orthodox Yerusalem dan diantarkan ke tempat ibadah Kristen yang paling
suci, Gereja Makam Suci (Holy Sepulchere Church). Ketika ia hendak memasuki
tempat suci itu terdengar adzan Shalat Dzuhur. Uskup Sophronius adalah seorang
tuan rumah yang penuh hormat, maka ia bertanya kepada Sang Khalifah: “Tidakkah
tuan akan menjalankan Shalat? Akan saya ambilkan sehelai sajadah untuk Anda dan
Anda akan dapat menjalankan Shalat di sini”. Sang Khalifah berpikir sejenak dan
berkata: “Terima kasih, tetapi maaf. Jika saya menjalankan Shalat di tempat
suci Anda, para ummat saya akan menirunya dan merebut tempat ini. Saya akan
pergi ke tempat yang agak terpisah”. Maka ia pun pergi menjauh dan menjalankan
Shalatnya di tempat yang sekarang merupakan sebuah masjid di dekat situ. Dari
kisah nyata dalam sejarah ini tahulah kita bahwa Gereja Kristen Perdana sejak
awal (sebelum kedatangan pasukan dan kaum Muslim) sudah melakukan Shalat[11].
Jika Anda seorang Kristen yang dibesarkan dalam tradisi
gereja-gereja Reformasi dari Barat baik Protestan, Baptis atau aliran-aliran
Pentakosta serta Kharismatik, mungkin terasa asing mendengar istilah Shalat
dalam Kekristenan.
Namun itulah kenyataan historis bahwa jauh sebelum Islam
menjadi agama yang memiliki pengaruh di dunia dan Indonesia khususnya dan
memiliki ritual ibadah Shalat, Kekristenan Timur yaitu Gereja Orthodox telah
mengenal ibadah harian yang disebut Ashabus Shalawat.
Dalam Gereja Orthodox ada dua bentuk Sembahyang Harian yang
mengikuti aturan tertentu ini, yaitu yang mengikuti cara Nabi Daniel : Tiga
Kali sehari (Dan. 6:11-12, Mzm. 55:18), atau juga mengikuti pola yang dikatakan
oleh Nabi Daud: ”Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau…” (Mzm.
119:164). Sembahyang tiga kali itu terdiri dari: Pagi, Tengah-Hari, dan Sore
Hari (Mazmur 55:18). Waktu-waktu Sembahyang itu sendiri sudah dimulai sejak
zaman Nabi Musa. Tuhan memerintahkan agar Imam Harun mempersembahkan korban
binatang dan korban dupa pada “Waktu Pagi” dan “Waktu Senja” (Kel. 29:38-39,
30:7-8).
Kata Shalat itu sendiri dalam bahasa Arab, serumpun dengan
kata Tselota dalam bahasa Arami (Syria) yaitu bahasa yang digunakan oleh Yesus
sewaktu hidup di dunia. Dan bagi ummat Kristen Orthodox Arab yaitu ummat
Kristen Orthodox yang berada di Mesir, Palestina, Yordania, Libanon dan daerah
Timur-Tengah lainnya menggunakan kataTselota tadi dalam bentuk bahasa Arab
Shalat, sehingga doa “Bapa kami” oleh ummat Kristen Orthodox Arab disebut
sebagai Shalattul Rabbaniyah.
Sebagaimana dikatakan sebelumnya, Gereja Orthodox, seperti
Syria dan Mesir, mengenal liturgi doa harian yang disebut, Ashabush Sholawat,
[12] yang terdiri dari :
Shalat Sa’atul Awwal (Shalat jam pertama, jam 06.00)
Shalat Sa’atuts Tsalits, (Shalat jam ketiga, jam 09.0)
Shalat Sa’atus Sadis, (Shalat jam keenam, jam 12.00)
Shalat Sa’atut Tis’ah, (Shalat jam kesembilan, jam 15.00)
Shalat Ghurub, (Shalat terbenamnya matahari, jam 18.00)
Shalat Naum (Shalat malam, jam 19.00)
Shalat Satar (Shalat tutup malam, jam 24.00)
Sementara Gereja
Katholik di Abad Pertengahan mengenal
yang disebut De Liturgia Horarum [13] yaitu :
Laudes (Doa pagi)
Hora Tertia (Doa jam ketiga)
Hora Sexta (Doa jam keenam)
Hora Nona (Doa jam kesembilan)
Verper (Doa senja)
Vigil (Doa malam)
Copletorium (Doa penutup)
Istilah Liturgia Horarum
dalam bahasa Inggris disebut “Liturgy of the Hours” (Liturgi Waktu). Nama ini
mulai dipakai untuk pertama kali pada tahun 1959 dan menjadi populer selama
Konsili Vatikan II, khususnya dalam Konstitusi Liturgi. Nama ini memperlihatkan
bahwa ibadat ini dijalankan sesuai dengan jam atau waktu tertentu setiap hari
yang pada dasarnya mempunyai arti simbolis sepeti terungkap dalam doa-doa yang
dipakai dalam ibadat ini[14].
Disebut Liturgi karena ibadat ini sesungguhnya adalah doa
atau kegiatan rohani seluruh umat sebagai Gereja dalam arti sebenarnya. Istilah
harian (jam harian) menyatakan bahwa ibadat ini menguduskan waktu, jam siang
dan malam. Sebenarnya dalam ibadat ini umat mengalami Tuhan yang tidak kenal
waktu, yang abadi dan kudus. Oleh pengalaman berahmat itu manusia dikuduskan
dalam waktu, hidup dan karyanya sehari-hari diberkati dan dikuduskan oleh
Tuhan, saat atau sejarah hidupnya menjadi saat yang penuh rahmat dan
menyelamatkan[15].
Dalam perspektif Roma Katholik yang mengacu pada istilah
Latin, ada beberapa istilah yang dipergunakan selain Liturgia Horarum yaitu
Ofisi Ilahi (Oficium: Kegiatan, Kewajiban), Brevir (Breviarum: Ringkasan,
Singkatan), Opus Dei (Karya Tuhan), Pensum Servitutis (Takaran Pelayanan),
Horae Canonicae (Jam-jam wajib), Horologion (Jam-jam doa)[16].
Lebih jauh makna dari Ashabus Shalawat sbb:
Shalat Jam Pertama (Sembahyang Singsing Fajar, Orthros,
Matinus, Laudes) atau Shalatus Sa’atul Awwal (Shalatus Shakhar), yaitu ibadah
pagi sebanding dengan “Shalat Subuh” dalam agama Islam (jam 5-6 pagi). Data ini
diambil dari Kitab Keluaran 29:38-41 berkenaan dengan ibadah korban pagi dan
petang, yang dalam Gereja dihayati sebagai peringatan lahirnya Sang Sabda
Menjelma sebagai Sang Terang Dunia (Yoh.8:12).
Shalat Jam Ketiga (Sembahyang Jam Ketiga, Tercia) atau
Shalatus Sa’atus Tsalitsu, Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dhuha” dalam
agama Islam meskipun bukan Shalat wajib (jam 9-11 pagi). Ini terungkap dalam
Kitab Kisah Para Rasul 2:1,15 yang mempunyai pengertian penyaliban Yesus dan
juga turunnya Sang Roh Kudus (Mrk.15:25; Kis.2:1-12,15). Itu sebabnya dengan
Shalat ini, kita teringatkan agar mempunyai tekad dan kerinduan untuk
menyalibkan dan memerangi hawa nafsu sendiri, agar rahmat Allah dalam Roh Kudus
melimpah dalam hidup.
Shalat Jam Keenam (“Sembahyang Jam Keenam”, “Sexta”) atau
Shalatus Sa’atus Sadis. Ini nyata terlihat dalam Kisah Para Rasul 10:9 dan
Shalat ini sebanding dengan “Shalat Dzuhur” dalam agama Islam (jam 12-1 tengah
hari), yang mempunyai makna sebagai peringatan akan penderitaan Kristus di atas
salib (Luk.23:44-45), dan pencuri yang disalib bersama-sama Kristus bertobat.
Berpijak dari makna ini, kitapun diharapkan seperti pencuri selalu ingat akan
hidup pertobatan dan selalu memohon rahmat Ilahi agar mampu mencapai tujuan
hidup yaitu masuk dalam kerajaan Tuhan.
Shalat Jam Kesembilan (“Sembahyang Jam Kesembilan”, “Nona”)
atau Shalatus Sa’atus Tis’ah (Kis.3:1) sebanding dengan “Shalat Asyar” dalam
agama Islam (jam 3-4 sore). Shalat ini dilakukan untuk mengingatkan saat
Kristus menghembuskan nafas terakhirNya di atas salib (Mrk.15:34-37), sekaligus
untuk mengingatkan bahwa kematian Kristus di atas salib adalah untuk menebus
dosa-dosa, agar manusia dapat melihat dan merasakan rahmat Ilahi.
Shalat Senja (“Sembahyang Senja”, “Esperinos”, “Vesperus”)
atau Shalatul Ghurub. Shalat ini sebanding dengan “Shalat Maghrib” dalam agama
Islam (kira-kira jam 6 sore), sama seperti Shalat jam pertama, Shalat ini
dilatar belakangi oleh ibadah korban pagi dan petang yang terdapat dalam Kitab
Keluaran 29:38-41. Makna dan tujuan Shalat ini adalah untuk memperingati ketika
Kristus berada dalam kubur dan bangkit pada esok harinya, seperti halnya
matahari tenggelam dalam kegelapan untuk terbit pada esok harinya.
Shalat Purna Bujana (“Shalat Tidur”, “Completorium”) atau
Shalatul Naum (Mzm.4:9). Shalat ini sebanding dengan “Shalat Isya” dalam agama
Islam (jam 8-12 malam), yang mempunyai makna untuk mengingatkan bahwa pada saat
malam seperti inilah Kristus tergeletak dalam kuburan dan tidur yang akan
dilakukan itu adalah gambaran dari kematian itu.
Shalat Tengah Malam (“Sembahyang Ratri Madya”, “Prima”) atau
Shalatul Lail atau “Shalat Satar” (Kis.16:25). Shalat ini sebanding dengan
“Shalat Tahajjud” dalam agama Islam. Shalat tengah malam ini mengandung
pengertian bahwa Kristus akan datang seperti pencuri di tengah malam
(Mat.24:42; Luk.21:26; Why.16:15), hingga demikian hal itu mengingatkan orang
percaya untuk tetap selalu berjaga-jaga dalam menghidupi imannya[17].
Rashid Rahman mengatakan mengenai latar belakang ibadah
harian dalam gereja sbb, “Praktek ibadah harian gereja awal dilatarbelakangi
oleh praktek ibadah harian Yudaisme hingga abad pertama. Latar belakang
tersebut dapat berupa kontinuitas, diskontinuitas atau pengembangan dari ibadah
Yudaisme”[18]. Selanjutnya dikatakan, “Gereja awal tidak memiliki pola ibadah
tersendiri dan asli. Mereka beribadah bersama dengan umat Yahudi dan kemudian
mengambil beberapa ritus Yahudi untuk menjadi pola ibadah harian”[19]
Waktu doa harian dalam Yudaisme disebut dengan Tefilah yang
terdiri dari Shakharit (pagi) Minha (siang) dan Maariv (malam). Dalam tradisi
Yudaisme, waktu-waktu doa dinamakan
zemanim. Pola ibadah ini merujuk pada waktu peribadahan di Bait Suci (Kel
29:38-42; Bil 28:1-8). Nabi-nabi dan raja-raja di Israel kuno melaksanakan
tefilah harian sbb :
Daud (Mzm 55:17)
Daniel (Dan 6:11)
Ezra (Ezr 9:5)
Yesus Sang Mesias (Luk 6:12)
Petrus dan Yohanes (Kis 3:1)
Petrus dan Kornelius (Kis 10:3,9)[20]
Para nabi dan rasul
pun melaksanakan ibadah dengan berbagai sikap atau postur tubuh yang tertentu
al :
Berdiri (Ul 29:10, , Mzm 76:8)
Bersujud (Mzm 96:9, Mat 26:39)
Berlutut (Mzm 95:6, Kis 20:36)
Mengangkat kedua tangan (Rat 3:41; Mzm 134:2)[21]
Shalat Dalam Islam:
Pelestarian Atau Peniruan?
[Bukan Peniruan, tapi melaksanakan perintah Allah Azza wa
Jalla-AZ.]
Nampaknya terlalu sarkastis dan over simplicity (terlalu
menyederhanakan) apabila beranggapan bahwa ritual Shalat dalam Islam sebagai
bentuk peniruan dari ritual Ashabus Sholawat atau Liturgia Horarum dan Tefilah
dalam Yudaisme. Saya lebih melihat bahwa eksistensi ritual Shalat dalam Islam
sebagai bentuk pelestarian dari tradisi Semitik dalam pemeliharaan ibadah
harian yang mulai hilang dalam gereja-gereja Barat khususnya aliran Protestan.
Terlepas dari persoalan bahwa Kristen dan Islam tidak
menyembah Tuhan yang sama dan memiliki konsep dan pemahaman yang berbeda
mengenai fungsi dan kedudukan ibadah harian namun keberadaan ritual Shalat
dalam Islam justru mengingatkan Gereja dan Kekristenan bahwa Gereja dan
Kekristenan perdana lahir dan tumbuh dari rahim Yudaisme. Gereja dan
Kekristenan lahir dan dibesarkan di dunia Timur yang sarat dengan kekayaan
spiritualitas dan keshalehan.
Yudaisme sebagai ibu kandung Kekristenan perdana telah
mewariskan ibadah harian yang disebut Tefilah dan yang kemudian dilestarikan
dalam kepercayaan baru kepada Yesus Sang Mesias sehingga melahirkan pola ibadah
harian Tselota atau Ashabus Shalawat atau Liturgia Horarum[22]. Akibat Gereja
dan Kekristenan tercerabut dari akar Semitik Yudaiknya maka banyak aspek
penting dalam peribadatan menjadi hilang dan terlupakan dalam Kekristenan
khususnya aliran Reformasi. Dan salah satu aspek yang hilang itu adalah ibadah
harian.
Rabbi Moshe Maimonides pernah mengatakan bahwa kehadiran
Islam adalah untuk meratakan jalan bagi Mesias yang akan datang karena
eksistensi Torah diaktualisasikan dalam format yang baru dalam Islam. Namun
saya lebih melihat bahwa kehadiran Islam dengan ritual Shalatnya, menjadi alat
Tuhan untuk mengingatkan Gereja dan Kekristenan (khususnya Barat) untuk
menelusuri akar keimanannya yang berasal dari tradisi Timur yaitu
Semitik-Yudaik yang lebih dahulu memelihara ibadah harian.
Pernyataan bahwa Islam menjadi “alat Tuhan” bukan berarti
saya menyetujui doktrin-doktrin Islam khususnya kenabian Muhamad sebagai
kelanjutan agama Yahudi dan Kristen dan pelucutan aspek Keilahian Yesus menjadi
sekedar nabi serta doktrin-doktrin lain. Pernyataan ini tidak lebih sebagai
bentuk refleksi dan introspeksi terhadap beberapa aspek yang hilang dari
Kekristenan dan seharusnya ada dan dilakukan oleh Kekristenan.
Jika Tuhan YHWH bisa membuka mulut keledai Bileam dan
berbicara padanya sehingga mencegah Bileam mengutuki Israel (Bil 22:28). Dan
jika Tuhan YHWH bisa memakai Raja kafir Persia bernama Koresh untuk mengalahkan
bangsa-bangsa yang menjajah Israel (Yes 45:1), mengapa pula Tuhan tidak bisa
memakai orang lain atau komunitas lain untuk menjadi alat-Nya?
Kita kerap memperlakukan bidat-bidat dalam Gereja sebagai
penyakit menular yang membahayakan namun tidak mau introspeksi dan berefleksi
bahwa kemunculan bidat-bidat bisa jadi sebuah peringatan bahwa Gereja telah
kehilangan kasih yang mula-mula atau mengabaikan ajaran dasar Yesus dan menjauh
dari jalan para rasul Mesias, seperti pernah dikatakan Alm DR. J. Verkuyl dalam
bukunya Gereja dan Bidat-bidat, bahwasanya keberadaan bidat adalah “hutang
Gereja”.
Panggilan Bagi Gereja
dan Kekristenan Untuk Kembali Ke Akar Imannya
Keberadaan Gereja Orthodox di Indonesia (masuk ke Indonesia
sekitar tahun 90-an) dan Messianic Judaism (masuk ke Indonesia sekitar awal
tahun 2000-an) merupakan alat Tuhan yang sesungguhnya agar Gereja dan
Kekristenan menyadari akar dan tradisi iman yang berasal dari budaya Semitik.
Sejak awal kuliah Teologi, saya tidak pernah mendengar apa
dan bagaimana perihal Gereja Ortodox. Yang saya tahu hanyalah Katolik dan
aliran Reformasi serta pecahan-pecahannya. Literatur Teologi yang saya baca pun
tidak pernah memberitahukan keberadaan Ortodox. Kalaupun diinformasikan hanya
sambil lalu saja. Informasi mengenai akar Kekristenan yang berasal dari
Yudaisme pun sangat minim untuk saya dapatkan.
Keberadaan Gereja Orthodox menyadarkan Gereja dan
Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa Gereja Perdana berhasil
memelihara rantai dan suksesi rasuliah hingga kini. Bahkan berbagai ritual
ibadah al: ibadah harian masih tetap terpelihara hingga hari ini sementara
Gereja beraliran Reformasi lebih menekankan doa-doa spontan.
Keberadaan Messianic Judaism menyadarkan Gereja dan
Kekristenan yang mewarisi tradisi Barat (Western) bahwa umat Yahudi bukan umat
yang dibuang dan dilupakan Tuhan serta telah digantikan oleh Gereja. Banyak
orang Yahudi dan Yudaisme yang telah menerima Yesus sebagai Mesias dan
melestarikan peribadahan yang berakar pada Yudaisme sebagai Mesias dan
rasul-rasulnya melakukan. Dan salah satunya adalah ibadah harian yang disebut
Tefilah. Dan mereka tidak menyebut diri mereka Kristen namun Messianic Jewish
atau Messianic Judaism.
Penutup
Kiranya kajian singkat yang menelusuri asal usul ritual
Shalat dalam Islam yang dapat dilacak sampai Yudaisme dan Kekristenan awal,
dapat membuka wawasan bersama baik Islam maupun Kristen mengenai akar tradisi
imannya yang berasal dari Timur yaitu tradisi Semitik. Bukan hanya berhenti
dalam pembukaan wawasan namun mendorong kedua belah pihak saling menghargai dan
menghormati sebagai agama-agama yang datang dari budaya Semitik.
Tambahan dari Akhirzaman.info [AZ]: Dengan penjelasan di
atas, jelaslah bahwa baik agama Yahudi dan agama Nashrani, keduanya merupakan
agama samawi yang ajaran-ajarannya kemudian disempurnakan Allah Azza wa Jalla
di dalam agama Islam sebagaimana dijelaskan dalam ayat berikut: “Pada hari ini
telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu.” [QS al-Ma’idah
5:3]. Oleh karena itu, Tuhan yang
disembah oleh ketiga agama samawi tersebut adalah sama, yaitu Allah Azza wa
Jalla, tidak sebagaimana dijelaskan dalam tulisan di atas.
End Notes:
Abu Bakar Jabir Al Jazairi, Ensiklopedi Muslim – Minhajul
Muslim, Jakarta: Darul Falah 2003, hal 298
Ibid., 299
Ibid.,
Dalil-Dalil Al Qur’an Tentang Shalat,
http://usupress.usu.ac.id/files/Dalili
dalil%20Al%20Qur'an%20tentang%20Shalat_Final_bab%201.pdf
Ibid., hal 300
http://allah-semata.org/forum/index.php?topic=531.0
Drs. Miftah Faridl, Pokok-Pokok Ajaran Islam, Bandung:
Pustaka, 1995, hal 95-96
Asal Usul Shalat Lima Waktu,
http://bahesti.wordpress.com/2010/12/07/asal-usul-shalat-lima-waktu/ Band. Asal
Usul Shalat, http://agama.kompasiana.com/2010/05/24/asal-usul-Shalat/
http://www.indoquran.com/id/hadithbukhariterjemahan/surah/8.html
Op.Cit., Ensiklopedi Muslim – Minhajul Muslim,, hal 302-303
Presbyter Rm.Kirill J.S.L, Shalat dalam Gereja Mula-mula
(Orthodox), http://www.facebook.com/note.php?note_id=407572576908
Bambang Noorsena, Sekilas Soal Shalat Tujuh Waktu Dalam
Gereja Orthodox, dalam PENSYL, No 29/III/1996
Syeikh Efraim Bar Nabba Bambang Noorsena, Selayang Pandang
Tentang Shalat Tujuh Waktu Dalam Kanisah Orthodox Syria, Surabaya, 19 Juni
1998_________________
Bernardus Boli Ujan, SVD., Memahami Ibadat Harian: Doa Tanpa
Henti Semua Anggota Gereja, Maumere: Ledalero, 2003, hal 10
Ibid 10
Ibid., hal 11-12
Shalat Tujuh Waktu, http://orthodoxkristen.multiply.com/journal/item/4
Ibadah Harian Zaman Patristik, Bintang Fajar, 2000, hal 5
Ibid., hal 36
Teguh Hindarto, Tefilah: Ibadah Harian Kekristenan,
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/02/tefilah.html
Ibid.,
Teguh Hindarto, Apakah Kekristenan Berbeda Dengan Yudaisme?
http://teguhhindarto.blogspot.com/2011/10/apakah-kekristenan-berbeda-dengan.html
Sumber: Messianic-Indonesia
v